Merdeka dari Gelap Gulita Setelah 72 Tahun

oleh
Peresmian listrik masuk desa di Desa Sungai Tapang oleh Bupati Sintang Jarot Winarno
Peresmian listrik masuk desa di Desa Sungai Tapang oleh Bupati Sintang Jarot Winarno

SINTANG, berita-aktual.com-Setelah menanti lama, tiga desa di Kecamatan Dedai akhirnya merdeka dari gelap gulita. Tiga desa tersebut yakni Desa Sungai Tapang, Desa Sungai Mali dan Desa Riguk. Ironisnya, kehadiran listrik negara baru terwujud setelah 72 tahun Indonesia merdeka.

Subendi menceritakan, listrik masuk desa Sungai Tapang, Sungai Mali dan Riguk prosesnya sangat panjang. Bahkan, saat sosialisasi listrik masuk desa di Sungai Mali, warga sempat pesimis. “Mereka bilang gini; listrik masuk desa itu ibarat menunggu bidadari cantik. Kapan datangnya tidak bisa dipastikan,” kata Subendi menirukan ucapan warga.

Makanya, kata Subendi, menyalanya listrik negara di Sungai Tapang dan dua desa lainnya sangat disyukuri masyarakat. Selain untuk penerangan, hadirnya listrik negara juga mengurangi beban biaya masyarakat yang selama ini terpaksa mengandalkan generator set (genset) untuk penerangan.

“Bayangkan saja, kalau biaya genset per hari saja Rp50 ribu, dalam sebulan warga harus mengeluarkan uang Rp1,5 juta untuk membeli BBM. Dengan hadirnya listrik Negara otomatis mengurangi beban itu,” kata dia.

Menurutnya, selama ini sejumlah desa di Kecamatan Dedai merasa belum sepenuhnya merdeka dari gelap gulita. Mengingat, meski Indonesia sudah merdeka 72 tahun, masyarakat masih saja dihadapkan pada sulitnya mengakses penerangan negara. “Masih banyak desa di Kecamatan Dedai belum teraliri listrik. Saya mohon kondisi ini diperhatikan,” pintanya.

Warga Desa Sungai Tapang, Bakri mengaku senang listrik masuk ke desanya. Karena selama ini, masyarakat menggantungkan penerangan pada genset dengan biaya mahal. “Saya nyalakan genset hanya pukul 19.00 hingga 21.00. Itupun sudah menghabiskan 2 liter BBM. Makanya, listrik di rumah kadang menyala, kadang tidak,” bebernya.

Ia mengaku, biaya untuk membeli bahan bakar genset memberatkan dirinya. Apalagi dengan bekerja sebagai petani dan menoreh getah. “Penghasilannya hanya cukup untuk makan. Listrik dinyalakan sesuai kemampuan. Makanya, kehadiran listrik Negara sangat disyukuri,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *