Bidar Pelangi Jubair, Kenang Kejayaan Sungai Tempo Dulu dengan Cara Kekinian

oleh
Kapal wisata Bidar Pelangi Jubair berlayar menyusuri Sungai Kapuas usai launching di Taman Bungur Kapal tersebut dibangun atas kerjasama antara MABM Sintang dengan Pemkab Sintang.

BERITA-AKTUAL.COM – Sintang tempo dulu. Sekitar 55 tahun lalu. Kawasan Saka Tiga yang merupakan pertemuan arus Sungai Kapuas dan Sungai Melawi. Pernah menjadi daerah yang penuh dengan hiruk pikuk lalu lalang kapal motor.

Kapal berbagai jenis itu datang dari arah Melawi, Kapuas Hulu, Ketungau dan Pontianak. Namun kini. Seiiring perkembangan zaman. Semua itu tidak dapat disaksikan lagi.

Oleh karena itu, untuk membangun lagi kepedulian akan sungai sebagai urat nadi kehidupan seperti tempo dulu, Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Sintang meluncurkan kapal wisata Bidar Pelangi Jubair. Pembuatan kapal tersebut bekerjasama MABM Sintang dengan Pemkab Sintang.

Menurut Ade Kartawijaya, Ketua MABM Sintang, saat ini keberadaan sungai mulai ditinggalkan sebagian besar masyarakat. Padahal sejarah mencatat, dari ekosistem sungailah hidup dan kehidupan Puak Melayu dimulai dan berproses. Artinya sungai sudah menjadi pabrik besar yang memproduksi unsur peradaban Melayu sejak dulu bahkan hingga kini.

“Adapun ide pengadaan kapal wisata adalah hendak membangun kesadaran pada kita semua agar terus peduli pada sungai sebagai urat nadi kehidupan. Selain itu juga untuk wisata hiburan edukatif untuk memperkuat persaudaraan antar etnis di Kabupaten Sintang,” jelasnya.

Kapal wisata Bidar Pelangi Jubair dibangun selama lima bulan. Pembuatannya diawali dengan membeli motor bandong milik swasta. Kemudian dibangun ulang sesuai desain yang ada. Panjangnya 20 meter dengan lebar 6,5 meter. Dari permukaan air tingginya 7 meter.

“Kapal ini mampu menopang berat 7 ton atau penumpang sebanyak 120 orang. Rencananya biaya naik kapal antara 5.000 hingga 10.000,” beber Ade Karta.

Ade juga menjelaskan makna dari nama kapal Bidar Pelangi Jubair. Bidar artinya kapal besar. Pelangi adalah lambang kemajemukan Sintang. Sedangkan Jubair adalah tokoh sentral dalam sejarah Kota Sintang. “Kapal wisata ini sebagai replika perahu jelajah pasukan rakyat Sintang menghalau penjajahan asing di Kota Sintang tahun 1822-1942,” bebernya.

Ketua DPP MABM Kalbar Chairil Effendi berharap pembangunan kapal wisata oleh MABM Sintang bisa menjadi contoh bagi kabupaten/kota lain agar bisa menelurkan bidar-bidar serupa. Agar, masyarakat Melayu yang akarnya selaku bergumul dengan air dapat menjaga kebersihan sungai.

“Saya juga berterima kasih pada Bupati Sintang yang sudah membantu terwujudnya kapal wisata Bidar Pelangi Jubair,” ucapnya.

Ia berharap kapal bidar yang dibangun dapat digunakan sebagai sarana untuk mempererat silaturahmi semua kelompok masyarakat yang ada di Kabupaten Sintang.

“Jadi kapal bidar ini hendaknya bukan semata-mata untuk kepentingan masyarakat Melayu saja. Tetapi menjadi wadah bagi semua kelompok masyarakat. Sehingga persoalan sosial yang muncul dimasyarakat bisa dimusyaarahkan secara baik,” ucapnya.

Bupati Sintang Jarot Winarno mengatakan, Sampan Bidar Pelangi Jubair yang merupakan kerjasama MABM Sintang dan pemkab, penamaanya syarat akan makna. Pelangi menggambarkan Sintang majemuk dan kaya akan budaya. Baik itu budaya Melayu, Dayak dan Tionghoa serta masyarakat lainnya lainnya.

“Semuanya adalah putra Sintang yang sama-sama berkontribusi membangun Sintang ini. Kita tidak bisa sendirian, dengan Sintang yang damailah kita bisa cepat maju kedepannya,” ucapnya.

Sedangkan Jubair, sambung Jarot, mengingatkan kita akan nama pendiri Kota Sintang. “Dalam launching ini, antusias.e masyarakat dari berbagai kompenen sangat luar biasa. Itu memberi pesan pada kita bahwa kita tidak pernah melupakan sejarah. Kita ini majemuk. Dan kita bisa membuktikan bisa hidup bersama-sama memajukan Kabupaten Sintang ini,” pungkasnya.