Pasien Dalam Pengawasan (PDP) ke-2 Diisolasi di RSUD Ade M Djoen Sintang

oleh
Jarot Winarno, Bupati Sintang

BERITA-AKTUAL.COM – RSUD Ade M Djoen Sintang, Kalbar, kembali menerima pasien suspect corona dari kabupaten lain. Dengan penambahan itu, pasien suspect corona atau pasien dalam pengawasan menjadi dua orang. Sebelumnya, Sintang menerima pasien serupa dari Kapuas Hulu.

“Masuk satu lagi nih pasien dengan pengawasan, rujukan dari Kabupaten lain. Nama kabupatennya ndak boleh disebut,” kata Jarot pada wartawan usai menghadiri acara di Credit Union Keling Kumang, Kamis (19/3).

Pasien sebelumnya, kata Jarot, sedang menunggu hasil tes dari Litbangkes Jakarta. “Seharusnya sih, 3 atau 4 hari di laboratoriumnya. Tapi hingga saat ini kita belum terima hasilnya,” kata Jarot.

Dalam menangani corona di Sintang, Jarot mengatakan pihaknya sudah melakukan 3T (Telusur, test dan treatment). Pemda Sintang juga mengawasi tenaga kerja asing disejumlah perusahaan perkebunan. “Pekerja asing di Julong Grup termasuk yang pertama kita kerjakan. Seperti yang saya bilang saat rapat, sejak 30 Januari saja, saya sudah mengurus orang dalam pengawasan,” ucapnya.

Jarot menyampaikan, ada beberapa masalah yang harus dihadapi Sintang saat ini. Yakni terkait lockdown di Malaysia yang membuat pekerja-pekerja Indonesia dipulangkan oleh majikan. “Karena cara legal susah mengingat Malaysia sedang lockdown, mereka lewat jalan tikus. Jadi, Pak Gubernur mengingatkan saya agar mengawasi jalan itu,” ucapnya.

Dalam rangka melakukan telusur, Jarot mengungkap bahwa pemerintah daerah berencana membuka posko covid-19 di kecamatan. “Tapi yang harus kita cermati adalah kapasitas ruang isolasi RSUD Ade M Djoen. Ruangnya sudah bagus dan modern, tapi kapasitasnya hanya 25 orang,” katanya.

“Dengan masuknya 2 orang dalam pengawasan, tentu harus diobservasi selama 15 hari. Jika setelah itu pasien masuk dan masuk lagi, tentu kapasitas tidak mencukupi. Sementara, RSUD Ade M Djoen merupakan rujukan dari Sanggau, Kapuas Hulu dan Melawi. Ini yang harus mesti kita awasi,” kata Jarot.

Permasalahan lainnya, ungkap Jarot, terkait sarana dan prasarana di ruang isolasi. Terutama terkait Alat Pelindung Diri (APD). “Saat ini APD sudah hampir habis. Tadi malam masker habis. Tapi sudah dikirim oleh Pak Sinto (Kadinkes Sintang) sebanyak 1.000 masker,” bebernya.

“Kelemahan kita lagi adalah soal alat tes. Masa` ngetes perlu waktu seminggu. Gimana kita tahu dia positif atau ndak?” kata Jarot. “Mengenai penetapan Kejadian Luar Biasa (KLB), akan dilakukan jika ada pasien positif,” pungkasya.