Dokter di Sintang jadi Korban Stigma Gegera Reaktif Rapid Test

oleh
- dr.Andar Jimmy Pintabar yang bertugas sebagai Tim Evakuasi Gugus Tugas COVID-19 Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang, Kalbar. Ia menjadi korban stigma setelah dinyatakan reaktif rapid test. Namun, dinyatakan negatif COVID-19 berdasarkan pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR).

BERITA-AKTUAL.COM – Meski berada di garis depan penanganan COVID-19, tenaga medis masih saja menjadi korban stigma.

Hal inilah yang dialami dr. Andar Jimmy Pintabar, dokter yang bertugas sebagai Tim Evakuasi Gugus Tugas COVID-19 Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang, Kalbar. Ia menjadi korban stigma setelah dinyatakan reaktif rapid test. Namun, dinyatakan negatif COVID-19 berdasarkan pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR).

  1. Andar bercerita, ketika hasil rapid tesnya dinyatakan reaktif, banyak isu yang tidak sesuai berkembang dimedia sosial tentang dirinya.

“Ada yang bilang saya sudah positif corona. Ada pula yang bilang, saya sudah bergejala dengan demam tinggi, batuk dan lainya. Ada juga disampaikan bahwa saya sudah OTG namun masih berkeliaran,” bebernya.

Ia menegaskan, isu-isu liar tersebut perlu diluruskan. Ia menjelaskan, saat dinyatakan reaktif rapid test, dirinya langsung menjalankan protokol kesehatan. Yakni melakukan dua kali pemeriksaan swab dua kali, yakni pada Rabu tanggal 29 dan 30 April. Setelah itu menjalani karantina.

“Saya tidak pulang ke rumah. Tapi menjalani karantina di tempat yang sudah disiapkan oleh Dinas Kesehatan dan Pemda. Jadi, saya tidak pernah keluar dari tempat karantina selain diantar oleh tim evakuasi dari Dinas Kesehatan,” bebernya.

Kemudian, sambung dr.Andar, ada juga stigma pada keluarganya. Meski pada hari Rabu dirinya dinyatakan reaktif dan keluarganya juga langsung menjalani pemeriksaan dan hasilnya non reaktif. Tapi, masih juga mendapatkan stigma. Dimana banyak yang menghindar dan takut terhadap keluarga saya. Padahal keluarga saya non reaktif.

Meski demikian, Andar mengaku banyak mengambil hikmah dari isu yang beredar. Bahkan, ketika isu semakin banyak menyebar, dirinya mendapatkan banyak sekali dukungan.

“Pada hari Rabu, saya mendapatkan WA berisi dukungan lebih dari 100 orang. Semuanya memberikan semangat, doa dan dukungan. Mulai dari keluarga, sahabat, teman kerja dan kenalan,” katanya.

“Hikmahnya, ketika beredar banyak stigma negatif. Saya lebih banyak menerima support. Baik itu untuk saya pribadi maupun keluarga. Alhamdulillah, pada Sabtu (6/5) lalu, hasil swab saya keluar. Hasilnya negatif COVID-19. Selama menjalani karantina, dirinya tidak pulang ke rumah selama 11 hari,” beber dr.Andar.

Dikatakan Andar, jauh sebelum dinyatakan reaktif rapid test, Dinas Kesehatan termasuk dirinya sering melakukan sosialisasi dan memberikan edukasi untuk tidak memberikan stigma terhadap orang-orang yang terlibat dalam kasus COVID-19. Apakah itu OTG, ODP, PDP, pasien terkonfirmasi maupun tenaga kesehatan yang terlibat langsung dan terpapar COVID-19.

“Kami sudah membuat video, fungsinya untuk memberikan edukasi pada masyarakat untuk menghilangkan stigma negatif dan diskriminasi terhadap orang-orang tersebut. Kedepan, kita akan terus memberikan edukasi itu. Dengan harapan stigma itu akan hilang,” ucapnya.

dr.Andar mengungkapkan, setelah dirinya rapid test dan hasilnya reaktif. Beberapa rekannya di Gugus Tugas COVID-19 juga ditest. Beberapa diantaranya hasilnya reaktif. “Kepada rekan-rekan yang masih menjalani isolasi, tetap kuat. Tetap semangat menjalani isolasi. Insya Allah akan keluar hasil yang terbaik,” katanya.

Selama menjalani isolasi, dr.Andar membebeberkan bahwa dirinya masih tetap bekerja dibalik layak. Baik melalui WA maupun email. “Namun, yang paling susuh saat itu adalah berpisah dengan anak. Ketika hanya berkomunikasi lewat video call dan anak selalu bertanya kapan pulang, itu yang paling berat bagi saya,” ucapnya.

“Saya empat hari karantina di Dinas Kesehatan sebelum pindah ke peginapan yang sudah disediakan oleh Pemda. Saat itu, saya sempat berjumpa anak dari jauh. Saya dari mobil evakuasi. Anak berada di mobil lain. Saya hanya bisa say hello dari jauh. Ini yang paling susah,” ucapnya lagi.

Kemudian, ia meluruskan info mengenai dirinya sempat pergi ke Bank. Hal itu dilakukan karena mengikuti prosedur penandatanganan buku tabungan atas nama RS Pratama Serawai untuk dana operasional.

“Saat itu, sudah disampaikan bahwa statys saya OTG dan sedang menjalani karantina. Saya sudah meminta untuk tanda tangan di Dinas Kesehatan. Tapi pihak bank bilang bahwa prosedurnya harus datang, difoto, dan tanda tangan. Kemudian saya datang sesuai protokol kesehatan. Mengenakan masker N95 dilapisisi makser bedah, melakukan physical distancing dan tidak melakukan kontak dengan siapapun dengan satu orang yang melayani di bank. Isu saya ke bank sempat heboh, alhamdulilah sekarang saya dinyatakan negatif COVID-19,” katanya.

Terakhir, dr.Andar mengimbau masyarakat agar selalu bersama-sama menghilangkan stigma negatif dan diskiriminasi kepada orang yang terlibat dalam COVID-19.

”Mari hapus stigma negatif. Hapus diskriminasi terhadap orang-orang yang disebut OTG, ODP, PDP, pasien konfirmasi positif maupun tenaga kesehatan yang terlibat dalam penanganan COVID-19. OTG yang hasil rapid test reaktif, tentu harus menjalani isolasi. Kepada masyarakat maupun tetangganya, tolong disupport dan mendoakan agar segera sembuh,” imbaunya.