Pembangunan di Perbatasan Sintang, Indonesia Gencar, Malaysia Stagnan

oleh
Heri Jambri, Wakil Ketua DPRD Sintang.

BERITA-AKTUAL.COM – Wakil Ketua DPRD Sintang, Heri Jambri mengungkapkan progres pembangunan daerah perbatasan Sintang-Malaysia di Sungai Kelik, Kecamatan Ketungau Hulu.

Ia mengatakan, di saat pemerintah Indonesia gencar membangun infrastruktur pendukung Pos Lintas Batas Negara (PLBN) di Sungai Kelik, diri sisi Malaysia malah terkesan stagnan.

“Sekarang Indonesia kan sudah sangat gencar membangun infastruktur di Desa Sungai Kelik Kecataman Ketungau Hulu. Bahkan jembatan sudah selesai dikerjakan oleh Indonesia. Kemudian pembangunan jalan menuju perbatasan seperti yang kita lihat di lapangan memang sudah sangat luar biasa dari Indonesia. Cuma posisi di malaysia tidak ada gerak sama sekali,” ungkap Heri Jambri, Jumat 24 Juni 2022.

Bahkan, kata legislator dari dapil Ketungau ini, berdasarkan informasi yang didapatkannya, Malaysia ingin titik nol ada di Batu Lintang. Bukan di Sungai Kelik.

“Padahal, lokasi tersebut dari titik nol Sungai Kelik sekitar 30-an kilometer, jadi sangat jauh. Bahkan sampai sejauh ini kita belum mendapatkan informasi yang pasti apakah Malaysia setuju atau tidak untuk dibuka Border di Sungai Kelik,” katanya.

Dikatakan Heri Jambri, ketika menghadiri kegiatan di Merakai belum lama ini, Kepala Badan Pengelola Perbatasan Daerah (BPPD) Kalimantan Barat mengatakan bahwa sampai saat ini juga belum ada persetujuan resmi dari pemerintah Malaysia khususnya negara bagian Serawak terkait titik nol di Sungai Kelik. Justu yang Serawak sudah setujui lokasinya di Batu Lintang.

“Tapi kalau dalam pemahaman saya, mau dimanapun Malaysia menentukan titik nol mereka ndak ada masalah,” klaimnya.

“Kenapa? Kalau memang mereka tidak siapkan border untuk menerima kita masuk ke sana, tapi kan arus orang melalui jalan tikus masuk terus selama ini. Tujuan border kan supaya orang keluar masuk terdata. Tujuannya juga demi kemananan warga Malaysia dan Indonesia. Tapi kalau dibiarkan keluar masuk secara ilegal terus menerus, yang rugi juga pemerintah Malaysia itu sendiri. Kalau dari sisi Indonesia, kita kan punya Pamtas. Jadi keamanannya atau atau pelaksanaan monitoring pelintas sudah cukup baik selama ini,” ujarnya.