Sintang Dapat Dana Rp 10 M Untuk Penanganan Inflasi

oleh
Kartiyus, Kepala Bappeda Sintang.

BERITA-AKTUAL.COM -Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sintang, Kartiyus mengatakan bahwa Kabupaten Sintang mendapatkan Dana Insentif Daerah (DID) dari Pemerintah Pusat untuk penanganan inflasi sebesar Rp 10,6 miliar. Dana DID ini untuk bantuan langsung tunai. Serta digunakan untuk mendukung kegiatan operasi pasar.

“Pemkab Sintang mulai Oktober sampai Desember 2022 nanyi akan melaksanakan operasi pangan murah dan operasi pasar. Mudah-mudahan angka inflasi sampai akhir tahun 2022 bahkan sampai Imlek 2023 nanti sudah menurun drastis,” kata Kartiyus saat launching Pasar Tani oleh Bupati Sintang di halaman Indoor Apang Semangai, Sabtu pagi 8 Oktober 2022.

Kabupaten Sintang sendiri beberapa waktu lalu sempat jadi sorotan Presiden RI Joko Widodo karena masuk 10 besar daerah dengan inflasi tertinggi secara nasional. Berdasarkan data yang disampaikan Jokowi, inflasi Sintang berada pada peringkat 7 se-Indonesia.

Dikatakan Kartiyus, inflasi Kabupaten Sintang pada September 2022 memang naik. Namun dibandingkan Kota Singkawang dan Kota Pontianak, inflasi Sintang lebih reendah.

“Di Kota Singkawang 1,66 persen, Kota Pontianak 1,58 persen dan Kabupaten Sintang 1,37 persen. Dua bulan terakhir ini inflasi Sintang lebih kecil dari dua kota ini di Kalimantan Barat,” bebernya.

Kiptiah Riyanti, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Barat menyampaikan inflasi di Provinsi Kalimantan Barat pada September 2022 adalah 1, 51 persen. Data ini berbanding terbalik dengan dengan bulan sebelumnya yang mengalami deflasi sebesar minus 0,07 persen. Komoditas yang menyebabkan inflasi pada September 2022 adalah kelompok transportasi, makanan minuman dan tembakau.

“Angka inflasi Kabupaten Sintang bulan September 2022 adalah 1, 37 persen. Data Januari sampai Agustus 2022, komoditas hortikultura sering muncul sebagai penyebab inflasi adalah timun, kacang panjang, tomat, bawang merah dan cabe merah. Penyebab utamanya adalah gangguan produksi karena faktor cuaca dan kenaikan harga BBM dan pupuk serta peningkatan permintaan masyarakat,” jelasnya.