Dinkes Sintang dan Polres Tindak Lanjuti Larangan Edar Obat Sirup Anak

oleh
Dinas Kesehatan dan Polres Sintang mengecek peredaran sirup anak di apotek dalam Kota Sintang.

BERITA-AKTUAL.COM – Menindaklanjuti imbauan Kemenkes RI terkait penarikan sejumlah obat sirup yang mengandung Dietilen Glikol (DEG) maupun Etilen Glikol (EG) karena mengakibatkan gagal ginjal akut pada anak, Dinas Kesehatan dan Polres Sintang langsung turun le lapangan untuk melakukan sosialisasi ke apotek.

Sosialisasi dipimpin oleh Kasat Samapta Polres Sintang Iptu Baryono didampingi Wien Maryati Awdisma dan Ediyanto dari Dinas Kesehatan Sintang. Sosialisasi dan pengecekan yang dilakukan ini guna memastikan 5 jenis obat sirup tersebut sudah ditarik dari peredaran hingga instruksi lebih lanjut dari Kemenkes RI.

Adapun kelima jenis obat sirup yakni Termorex Sirup (obat demam), Flurin DMP Sirup (obat batuk dan flu), Unibebi Cough Sirup (obat batuk dan flu), Unibebi Demam Sirup (obat demam) dan Unibebi Demam Drops (obat demam).

Kapolres Sintang melalui Kasat Samapta Iptu Baryono menjelaskan, saat melakukan sosialisasi dan pengecekan ke sejumlah apotek dan toko obat, penarikan terhadap kelima jenis obat tersebut telah dilakukan.

“Dari belasan apotek dan toko obat yang kita kunjungi, mereka sangat tanggap. Sehingga ketika informasi larangan penggunaan obat sirup tersebut dirilis mereka sudah melakukan penarikan,” kata Baryono.

Dengan adanya sosialisasi dan imbauan Polres Sintang bersama Dinas Kesehatan, masyarakat dapat lebih selektif terhadap penggunaan obat sirup pada anak. Meski saat ini hanya terdapat lima jenis obat yang dilarang edar, kedepannya mungkin bisa bertambah.

Sementara itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang telah mengeluarkan Surat bernomor: 440/958/Yankes/2022 tanggal 19 Oktober 2022 terkait pemberitahuan pelarangan penjualan obat sirup. Surat pemberitahuan bagi seluruh tenaga kesehatan, praktek perorangan, apotek, toko obat hingga ritel untuk mengantisipasi meluasnya kasus gagal ginjal akut.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang, dr Harysinto Linoh menyebutkan bahwa surat pemberitahuan tersebut dikeluarkan untuk menindaklanjuti surat Kementrian Kesehatan Republik Indonesia tentang penyelidikan epidemiologi dan pelaporan kasus gangguan ginjal akut atipikal pada anak. Saat ini, terjadi peningkatan kasus gangguan ginjal akut progresif atipikal yang terjadi pada anak usia 0 sampai 18 tahun (mayoritas pada usia balita).

“Tenaga kesehatan pada fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah, swasta praktek perorangan untuk sementara tidak meresepkan obat obatan dalam bentuk sediaan atau sirup sampai dilakukan pengumuman resmi dari pemerintah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang undangan,” terang Harysinto Linoh.

“Selain tenaga kesehatan, praktek perorangan, seluruh apotek, toko obat, mini market, ritel juga diminta untuk sementara tidak menjual obat bebas atau bebas terbatas dalam bentuk syrup kepada masyarakat sampai dilakukan pengumuman resmi oleh pemerintah,” tegasnya.

Ia memastikan saat ini belum ada ditemukan kasus anak yang terindikasi gangguan ginjal akut di Kabupaten Sintang.