Penyakit Hipertensi Tinggi di Puskemas Kebong, ini Penyebabnya!

oleh
Roy Martadi Nurmansyah, Kepala Puskesmas Kebong.

BERITA-AKTUAL.COM – Kepala Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD) Puskesmas Kebong, Roy Martadi Nurmansyah mengatakan bahwa penyakit paling tinggi yang dikeluhkan masyarakat di fasilitas kesehatan yang dipimpinnya tahun 2022 adalah Hipertensi dan Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA).

“Kenapa kasus hipertensi bisa tinggi? Karena masyarakat masih takut memeriksakan dirinya ke Puskesmas. Takut diswab, takut karena belum divaksin. Itu masih jadi kendala di masyarakat,” ungkap Roy pada media berita-aktual.com, ketika menghadiri rangkaian kegiatan Hari Kesehatan Nasional (Harkesnas) tahun 2022 di Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang, Sabtu 12 November 2022.

Kemudian, kata Roy, hipertensi tinggi di Puskesmas Kebong disebabkan juga oleh sumbangan dari luar wilayah. Sekitar 70 persen yang tercatat memiliki kasus hipertensi, adalah masyarakat yang datang dari luar wilayah kerja Puskesmas Kebong.

Ia mengatakan, wilayah kerja Puskesmas Kebong sebanyak 13 desa. Dari total 877 kasus hipertensi tersebut, 70 persen diantaranya disumbang oleh kunjungan masyarakat dari luar wilayah.

“Contoh, Desa Samak yang dekat dengan Puskesmas Kebong masuk wilayah Puskesmas Dedai, begitu juga Taok, Nanga Jetak dan Terusan. Dengan posisi Puskesmas Kebong yang sangat strategis, banyak masyarakat dari luar wilayah kerja berobat ke kami. Mau ke Sintang, harus melewati kami dulu. Mereka mau ke Puskesmas Emparu jauh, justru lebih dekat ke Kebong. Jadi mereka berobat ke Puskesmas Kebong. Makanya sumbangan kasusnya banyak dari luar wilayah kerja,” jelasnya.

Roy memastikan, meski masyarakat yang berobat berasal dari luar wilayah kerja, Puskesmas Kebong tetap memberikan pelayanan. Namun mereka disarankan untuk mengubah faskesnya ke Puskesmas Kebong. Agar mereka mendapatkan pelayanan BPJS di Puskesmas Kebong.

Hipertensi merupakan penyakit kronis yang termasuk penyakit tidak menular (PTM). Jika sudah terkena hipertensi, harus rutin minum obat. “Oleh karena itu kami syarankan untuk kontrol seminggu sekali ke Puskesmas. Kemudian ikut Posyandu Lansia dan Posbindu desa. Karena kan yang kena hipertensi rata-rata adalah lansia,” jelasnya.