Ini Penyebab 2 Kasus AKI di Puskesmas Kebong

oleh
Roy Martadi Nurmansyah, Kepala Puskesmas Kebong.

BERITA-AKTUAL.COM – Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD) Puskesmas Kebong, Kecamatan Kelam Permai mencatat ada dua kasus Angka Kematian Ibu (AKI) melahirkan selama tahun 2022.

“Kematian ibu melahirkan ada 2 kasus. Kejadian itu sebelum saya masuk sebagai Kepala Puskesmas. Yakni bulan Februari dan Mei,” ungkap Kepala Puskesmas Kebong, Roy Martadi Nurmansyah pada berita-aktual.com, belum lama ini.

Ie menjelaskan, kasus pertama, awalnya ibu hamil tersebut melakukan pemeriksaan ke petugas Puskesmas. Sudah kita dampingi. BPJS sudah diaktifkan. Sudah siap kita layani,

“Tapi yang bersangkutan memutuskan kembali ke adat istiadat, lalu memanggil dukun beranak. Dia melahirkan di dukun. Ketika pendarahan baru manggil kami lagi. Akhirnya ndak tertolong. Padahal dekat di Desa Kelam Sejahtera,” bebernya.

Kasus kedua, ungkap Roy, di Desa Sungai Labi, Kecamatan Kelam Permai. Desa itu memang jauh jarak tempuhnya. Sekarang ini Desa Sungai Labi sedang jadi desa binaan. Supaya nanti masyarakat terpapar dan memahami bahwa persalinan atau melahirkan dengan tenaga kesehatan itu sangat penting untuk mencegah komplikasi-komplikasi pada ibu melahirkan. Termasuk pada bayi yang baru lahir.

“Di Desa Sungai Labi, petugas kita lengkap. Tapi aksesnya jauh. Bidan kita cuma satu di desa. Untuk menangani ibu hamil tersebut, petugas kita siap kok. Seandainya ibu bersalin tidak bisa datang ke faskes, bidan siap datang dan dijemput untuk datang ke sana. Cuma kan melahirkan harus di faskes,” katanya.

“Untuk kasus meninggal Sungai Labi, dia melahirkan dengan dukun juga. Begitu selesai, baru datang ke desa. Lalu desa manggil bidan,” jelasnya.

Terkait masalah masyarakat masih percaya dukun, mungkin karena keputusan pribadi. Padahal kalau masalah biaya, Puskesmas tidak memaksakan. Kalau punya BPJS tetap dilayani.

“Masyarakat tidak mampu dan tidak punya biaya, tidak punya jaminan sosial, tetap dilayani. Ada Jempersal, bisa kita usahakan dari situ. Memang dari warganya yang masih percaya kepada dukun, mungkin ada kedekatan emosional dan kekeluargaan. Kedua mungkin pengaruh letak geografisnya,” jelasnya.

Kondisi tersebut diakuinya jadi tantangan buat Puskesmas Kebong. Dirinya sudah komunikasi dengan Camat, Koramil dan Polsek supaya nanti kita mengadakan semacam kegiatan sosialisasi dan eduksi ke masyarakat berupa kegiatan kemitraan bidan dan dukun. Kita turun bersama, dengan kepala desa juga sudah kita sampaikan.

“Kami pengen, karena mereka lebih percaya pada adat istiadat dan budaya, kalau perlu para ketua adatnya menyiapkan sanksi bila melahirkan ke dukun. Bila perlu mereka boleh mendampingi melahirkan, membantu mengantarkan ke petugas Puskesmas. Supaya warga yang melahirkan merasa tenang, merasa nyaman dengan didampingi oleh ketua adat atau dukun kampung serta masyarakat desa,” pungkasnya