BBM Langka di Perbatasan, Penambang Speedboat Merakai – Sintang Tak Beroperasi

oleh
Speedboat warga perbatasan yang tak bisa melayani penumpang akibat BBM langka.

BERITA-AKTUAL.COM, SINTANG – Kelangkaan BBM yang terjadi di pedalaman Sintang, membuat aktivitas masyarakat terganggu. Salah satu yang terkena dampak adalah pengelola angkutan sungai di Nanga Merakai, Kecamatan Ketungau Tengah, Kabupaten Sintang.

“Akibat kelangkaan BBM berupa bensin dan Pertalite, speedboat penambang Merakai Sintang tidak bisa operasional lagi,” ungkap Alpius, Anggota DPRD Sintang ketika dihubungi Hi! Pontianak, Rabu 3 Mei 2023.

Dengan adanya kondisi tersebut, ia meminta pihak terkit memikirkan dampak kelangkaan BBM yang dirarasakan masyarakat di daerah perbatasan tersebut.

“Mohon berlakulah bijaksana, jangan hanya mementingkan pribadi. Ingat rakyat perlu makan dan beban rakyat semakin berat. Ekonomi sulit, cari pekerjaan sulit. anak perlu biaya untuk sekolah,” ujarnya.

Politisi dari daerah perbatasan ini menyebut kelangkaan BBM yang terjadi saat ini sangat berpengaruh besar terhadap semua aspek kehidupan masyarakat di daerah.

Panglima Aliansi Solidaritas Anak Peladang (ASAP), Andreas mengungkapkan bahwa pada saat dirinya ke Kecamatan Ketungau Hulu akhir April lalu masyarakat sudah mengeluhkan harga BBM yang meroket akibat kelangkaan. “Kelangkaan ini sudah terjadi sekitar dua minggu, khususnya di jalur perbatasan Ketungau,” ungkapnya.

Ketika ditanyakan penyebab kelangkaan BBM, masyarakat beralasan mereka tidak bisa mengantre lagi. Dengan alasan Polda melarang antrean menggunakan jiirigen maunpun drum.

“Makanya kami melakukan aksi damai ke Pertamina. Karena bagaimanapun juga, para pengantre ini kecil inilah yang menunjang masyarakat di daerah terkait pemenuhan BBM. Dengan mereka tidak diizinkan mengantre, otomatis tidak ada minyak yang dijual di kampung,” jelasnya.

Andreas menyebut, di satu sisi dirinya setuju dengan Kapolda yang melarang antre minyak menggunakan jirigen. Karena mafia minyak cukup biasa. Karena kita tidak tahu mana minyak yang ditimbun maupun yang benar-benar didistribusikan lagi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di pedalalaman.

“Makanya kami minta pemerintah daerah, BPH Migas maupun Pertamina membuat regulasi untuk membantu masyarakat agar mudah mendapatkan BBM, khususnya mereka yang di daerah atau kecamatan-kecamatan,” jelasnya.