Banjir Bandang Sepauk–Tempunak: 10 Desa Terdampak, 6 Jembatan Putus

oleh
Salah satu rumah warga di Desa Nanga Pari yang terendam banjir.

SINTANG – Banjir yang melanda wilayah Kecamatan Sepauk dan Kecamatan Tempunak, Kabupaten Sintang pada Kamis 8 Januari 2026 mengakibatkan 10 desa terdampak cukup parah serta menyebabkan enam unit jembatan putus.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sintang, Benyamin menjelaskan, total ada 10 desa yang terdampak banjir parah di Kecamatan Sepauk dan Tempunak. Salah satunya Desa Bernayau, Desa Nanga Pari, Desa Sinar Pekawai hingga Temawang Bulai. Sementara di Kecamatan Tempunak, banjir paling parah terjadi di Desa Benua Kencana dan Desa Riam Batu.

“Ini data sementara sampai Jumat siang ini. Untuk jembatan, sementara ini dilaporkan ada enam unit yang putus, namun kami masih menunggu laporan resmi dari kepala desa di empat desa tersebut,” ujarnya, Jumat 9 Januari 2025.

Menurut Benyamin, kondisi banjir saat ini sebagian besar telah surut. Namun, genangan air masih terlihat di sejumlah halaman rumah warga. BPBD bersama pemerintah kecamatan dan desa telah mengimbau masyarakat agar tetap waspada, mengingat intensitas hujan masih tinggi.

“Kami sudah menyampaikan imbauan melalui camat dan kades agar warga tetap waspada. Berdasarkan analisa BMKG, curah hujan masih cukup tinggi,” katanya.

Selain merendam permukiman warga, banjir juga berdampak pada sejumlah fasilitas publik. Beberapa sekolah dan kantor desa dilaporkan ikut terendam, meskipun hingga kini BPBD belum menerima data rinci terkait jumlah fasilitas yang terdampak maupun tingkat kerusakannya.

Terkait jembatan, Benyamin menyebut jembatan yang paling vital dan mengalami kerusakan berat berada di Desa Riam Batu. Sementara di Desa Bernayau, jembatan tidak sampai putus, namun mengalami kerusakan yang mengurangi fungsinya.

“Soal penanganan ke depan, Pak Kepala BPBD masih berkoordinasi dengan Bupati. Apakah perbaikan menggunakan APBD atau diusulkan ke pusat. Kalau bisa pakai APBD tentu lebih cepat, karena kalau dari pusat prosesnya biasanya lebih lama,” ungkapnya.

Benyamin juga menambahkan bahwa hingga saat ini status bencana banjir belum ditetapkan. Sebelumnya wilayah tersebut berada dalam status siaga, namun belum ada perintah lanjutan terkait penetapan status terbaru.

Terkait kondisi cuaca, BMKG memprediksi curah hujan di wilayah Kabupaten Sintang masih berpotensi tinggi hingga bulan Maret. Hal ini dipengaruhi oleh dampak siklon tropis yang masih berpengaruh di wilayah Kalimantan Barat, termasuk Sintang.

Ekologi Rusak

Selain faktor curah hujan, Benyamin menilai banjir juga dipicu oleh kerusakan lingkungan. Ia menyoroti kondisi daerah hulu yang banyak mengalami penggundulan bukit serta pendangkalan sungai akibat aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI).

“Ekologi kita sudah rusak. Banyak bukit di hulu yang gundul dan sungai dangkal karena aktivitas PETI. Ini memperparah dampak banjir,” pungkasnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.