SINTANG – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Bukit Liang, Desa Sungai Pukat, Kecamatan Kelam Permai, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, masih belum padam hingga Rabu, 19 Agustus 2026.
Kebakaran tersebut mulai terjadi sejak Senin sore, 17 Agustus 2026. Hingga memasuki hari ketiga, api masih terlihat menyala di kawasan Bukit Liang.
Ketua Pokdarwis Bukit Liang Sungai Pukat, Wiwis Saputra, membenarkan bahwa api masih belum berhasil dipadamkan.
“Kondisi api masih hidup. Kemarin mau coba padamkan, karena hanya kami berdua yang naik. Keterbatasan air dan alat, medan yang berbahaya, sama kepulan asap yang tebal jadi sulit didekati,” kata Wiwis ketika dihubungi, Rabu.
Menurut Wiwis, upaya pemadaman kembali akan dilakukan pada Rabu siang dengan mendapat bantuan dari pemuda Desa Pelimping.
Ia berharap pemerintah dapat segera turun tangan membantu proses pemadaman, termasuk melalui pemadaman dari udara.
“Saya harap pemerintah bisa ikut bantu memadamkan lewat udara secepatnya supaya api tidak menyebar luas,” ujarnya.
Wiwis menjelaskan, kebakaran terjadi di kawasan yang terdapat lahan gambut. Kondisi tersebut membuat api dapat bertahan lebih lama karena proses pembakaran berlangsung di dalam atau bawah permukaan lahan.
“Memang belum terlalu luas benar karena di lahan gambut, proses terbakarnya lama. Apinya mati kalau gambutnya sudah habis sampai batu,” jelasnya.
Selain kebakaran, Wiwis juga mengkhawatirkan potensi longsor akibat rusaknya vegetasi di kawasan yang terbakar.
Menurutnya, akar-akar pohon yang selama ini berfungsi menahan tanah dan batu dikhawatirkan ikut rusak atau tumbang akibat kebakaran.
“Itu bisa terjadi longsor ke depannya, karena akar-akar pohon yang menahan batu di area yang dilahap api pasti tumbang semua,” katanya.
Ia khawatir apabila terjadi longsor dalam skala besar, material berupa tanah dan batu dapat mencapai kebun atau ladang warga yang berada di sekitar kawasan Bukit Liang.
“Kalau longsor besar-besaran takutnya bisa sampai ke kebun atau ladang warga yang ada di sekitar,” ungkapnya.
Wiwis menyebut kawasan tersebut berada pada ketinggian sekitar 620 meter di atas permukaan laut (mdpl). Menurutnya, apabila terjadi longsor besar, material batu dan tanah berpotensi terbawa hingga cukup jauh.
Hingga Rabu, 19 Agustus 2026, api di kawasan Bukit Liang masih belum padam. Upaya pemadaman terkendala kondisi medan yang berbahaya, keterbatasan air dan peralatan, serta kepulan asap yang cukup tebal.
Pihak Pokdarwis bersama pemuda setempat berencana kembali melakukan upaya pemadaman, sembari berharap adanya bantuan pemerintah agar kebakaran dapat segera dikendalikan dan tidak meluas.





