Rumah Betang Semangkok Berusia 112 Tahun, Lasarus Wacanakan Revitalisasi untuk Perkuat Wisata Budaya

oleh
Ketua Komisi B DPR RI, Lasarus meninjau Rumah Betang Semangkok di Desa Ariung Mendalam, Kecamatan Putussibau Utara.

KAPUAS HULU – Ketua Komisi V DPR RI, Lasarus, mewacanakan revitalisasi Rumah Betang Semangkok yang merupakan salah satu cagar budaya di Desa Ariung Mendalam, Kecamatan Putussibau Utara, Kabupaten Kapuas Hulu. Revitalisasi tersebut diharapkan dapat melestarikan warisan budaya sekaligus mengembangkan potensi wisata di kawasan Sungai Mendalam.

Wacana itu disampaikan Lasarus saat meninjau langsung Rumah Betang Semangkok dalam agenda resesnya di Kabupaten Kapuas Hulu, Senin (27/7/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Lasarus didampingi Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Kalimantan Barat Chandra, Bupati Kapuas Hulu Fransiskus Diaan, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Ketua DPRD Kapuas Hulu Yanto, serta sejumlah anggota DPRD Kabupaten Kapuas Hulu.

Rumah Betang Semangkok merupakan bangunan bersejarah yang didirikan pada 1914 dan diresmikan secara adat pada 1928. Bangunan sepanjang sekitar 60 meter dengan 16 bilik itu menghadap ke Sungai Mendalam dan hingga kini masih dihuni puluhan keluarga.

“Saya meninjau rumah betang ini karena kita ingin melakukan revitalisasi seperti yang sudah dilakukan pada Rumah Betang Lunsa Hilir yang sekarang kondisinya sudah rapi,” kata Lasarus.

Ia mengaku memiliki perhatian khusus terhadap pelestarian rumah betang di Kapuas Hulu. Bahkan, dulu sebelum mengunjungi Rumah Betang Semangkok, dirinya terlebih dahulu meninjau Rumah Betang Lunsa Hilir.

Lasarus juga mengenang kunjungan sebelumnya ke kawasan tersebut. Menurutnya, tidak lama setelah kunjungan terdahulu, jembatan gantung lama yang menjadi akses menuju lokasi roboh. Kini, setelah jembatan baru selesai dibangun, ia kembali datang untuk melihat langsung kondisi rumah betang.

“Pulang dari sini dua hari kemudian jembatan gantung yang lama roboh. Sekarang jembatannya sudah jadi dan saya datang kembali ke sini,” ujarnya.

Menurut Lasarus, revitalisasi Rumah Betang Semangkok akan diupayakan melalui program pemerintah yang mendukung pelestarian bangunan cagar budaya.

“Saat ini rumah betang ini sudah berstatus cagar budaya. Karena itu kita ingin melakukan revitalisasi supaya semakin banyak spot wisata yang bisa dikembangkan di sini,” katanya.

Ia menilai kawasan Rumah Betang Semangkok memiliki daya tarik wisata yang besar karena berada tepat di tepi Sungai Mendalam yang masih memiliki air sangat jernih dan lingkungan alam yang masih asri.

“Kalau ini kita lakukan perbaikan, daya tariknya sangat besar. Di depan ada Sungai Mendalam yang airnya masih sangat jernih. Orang bisa datang ke sini, menikmati wisata budaya, bermain di sungai, arung jeram, memancing, dan menikmati alam yang masih sangat mendukung,” ujarnya.

Terkait kebutuhan anggaran, Lasarus mengatakan hingga kini belum dapat dipastikan karena masih menunggu kajian teknis mengenai kondisi bangunan.

Ia menjelaskan, pemerintah terlebih dahulu akan melakukan studi untuk mengetahui tingkat kerusakan, kebutuhan penguatan konstruksi, hingga penyusunan Detail Engineering Design (DED). Setelah seluruh kajian selesai, barulah besaran anggaran dapat dihitung.

“Ini masih harus dihitung dulu karena belum ada studi. Kita harus melihat tingkat kerusakannya seperti apa, apa saja yang perlu diperkuat. Setelah studi selesai dan DED-nya ada, baru bisa diketahui kebutuhan anggarannya,” jelasnya.

Lasarus menambahkan, salah satu konsep revitalisasi yang akan diterapkan ialah memisahkan bangunan dapur dari bangunan utama sebagaimana diterapkan pada Rumah Betang Lunsa Hilir.

Menurutnya, langkah tersebut penting untuk mengurangi risiko kebakaran yang selama ini menjadi ancaman bagi rumah-rumah betang berbahan kayu.

“Kalau kita bangun seperti di Lunsa Hilir, antara rumah utama dan dapur akan dipisahkan. Rumah betang sangat rentan terhadap kebakaran, sehingga dapur harus terpisah agar jika terjadi sesuatu, api tidak langsung menjalar ke bangunan utama,” tegasnya.

Ia berharap proses studi dapat segera diselesaikan agar usulan revitalisasi bisa segera dianggarkan.

Juru pelihara Rumah Betang Semangkok, Paustinus Suka Rangdut, menyambut baik rencana revitalisasi tersebut. Menurutnya, kondisi rumah betang yang telah berusia lebih dari satu abad memang membutuhkan penanganan serius.

Ia mengatakan, selama ini masyarakat tidak diperkenankan melakukan renovasi secara mandiri karena bangunan tersebut telah ditetapkan sebagai cagar budaya.

“Kami sejak dulu selalu melaporkan kondisi rumah betang ini kepada pemerintah kabupaten maupun provinsi. Atap, tiang, dan lantainya sudah banyak yang mengalami kerusakan. Lantainya juga sudah bergelombang sehingga tidak lagi layak,” ujarnya.

Juru pelihara Rumah Betang Semangkok, Faustinus (kaos putih)

Paustinus berharap perhatian pemerintah dapat menjaga kelestarian Rumah Betang Semangkok sekaligus meningkatkan keselamatan para penghuni.

Menurutnya, pemisahan rumah-rumah penduduk dari bangunan utama rumah betang juga dinilai penting untuk mengurangi risiko apabila terjadi bencana, terutama kebakaran.

Ia menjelaskan, saat ini Rumah Betang Semangkok memiliki 16 bilik yang dihuni sekitar 48 kepala keluarga. Bahkan, dalam satu bilik terdapat tiga hingga empat kepala keluarga.

“Kalau dihitung sekarang, penghuni rumah betang ini sudah memasuki generasi keenam,” pungkasnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.