SINTANG – Duka mendalam menyelimuti keluarga Praka (Anumerta) Aprianus, anggota TNI asal Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, yang gugur saat menjalankan tugas di Papua pada Rabu, 29 April 2026.
Aprianus diketahui telah bertugas di Papua sejak awal Januari 2026. Penugasan tersebut merupakan yang kedua kalinya bagi putra bungsu satu-satunya dalam keluarga itu mengemban tugas di wilayah rawan konflik.
Sang ibu, Agnes Niga, mengenang momen terakhir komunikasi dengan anaknya sebelum berangkat patroli. Ia menceritakan, Aprianus sempat menghubunginya melalui sambungan WhatsApp pada Senin, beberapa hari sebelum keberangkatan ke hutan untuk patroli.
“Dia telepon, bilang ‘Mak, kami hari Senin berangkat lagi ke hutan. Kami 13 orang. Pulang, tidak pulang nanti tanggal 1 Mei. Setelah itu baru kami pulang ke tenda camp atau pos jaga’,” tutur Agnes saat ditemui di rumah duka, Kamis, 30 April 2026.
Mendengar hal tersebut, Agnes hanya bisa berpesan agar sang anak selalu berhati-hati selama menjalankan tugas.
“Saya jawab, ‘Iya nak, hati-hati, jaga diri.’ Dia bilang, ‘Iya mak, iya’,” kenangnya dengan suara bergetar.
Percakapan itu pun menjadi komunikasi terakhir antara ibu dan anak tersebut. Agnes tak kuasa menahan tangis saat mengingat momen tersebut.
“Itulah terakhir dia bicara sama saya,” ujarnya lirih.
Selama bertugas di Papua, Aprianus dikenal rutin menghubungi keluarga di kampung halaman. Setiap selesai menjalankan patroli atau kembali dari hutan, ia selalu menyempatkan diri memberi kabar kepada orang tuanya.
“Dia rajin telepon. Kalau sudah pulang dari hutan, dia bilang ‘Mak, kami sudah pulang’. Setiap pulang selalu telepon keluarga,” ungkap Agnes.
Sempat Disarankan Jadi Pastor
Kepergian Aprianus meninggalkan duka mendalam bagi keluarga. Ia dikenal sebagai sosok anak yang berbakti, pekerja keras, dan tidak pernah merepotkan orang tua.
Dalam suasana haru, Agnes mengenang perjalanan hidup putranya. Ia mengaku sempat menyarankan Aprianus untuk tidak menjadi tentara, melainkan melanjutkan pendidikan atau menempuh jalan sebagai pastor.
“Saya pernah bilang, tidak usah jadi tentara, kuliah saja dulu atau jadi pastor,” ungkapnya.
Namun, keinginan itu ditolak oleh Aprianus. Dengan tekad kuat, ia memilih bergabung dengan TNI demi membantu perekonomian keluarga.
“Dia bilang, kalau kuliah kapan bisa bantu orang tua. Makanya dia nekat jadi tentara,” lanjut Agnes menirukan ucapan putranya.
Perjuangan Aprianus untuk menjadi anggota TNI tidaklah mudah. Ia sempat mengalami kegagalan berulang kali, termasuk dua kali gagal dalam seleksi TNI dan satu kali gagal saat mendaftar kepolisian. Meski demikian, ia tidak pernah menyerah hingga akhirnya berhasil mewujudkan cita-citanya.
Menurut Agnes, putranya merupakan alumni SMAN 3 Sintang yang aktif dalam berbagai kegiatan, seperti paskibra, taekwondo, dan panjat dinding. Di lingkungan keluarga dan masyarakat, Aprianus juga dikenal rajin membantu serta aktif dalam kegiatan sosial dan keagamaan.
Rencana yang Tak Sempat Terwujud
Agnes juga mengungkapkan rencana sang anak yang belum sempat terwujud. Sepulang dari penugasan di Papua, Aprianus berencana pulang ke Sintang dan memperkenalkan kekasihnya kepada keluarga.
Perempuan yang menjadi kekasih Aprianus diketahui berasal dari Manado dan direncanakan akan diajak ke Sintang pada kepulangan Aprianus sekitar November mendatang.
“Kemarin cita-citanya sepulang dari Papua bulan 11 nanti, dia mau bawa pacarnya ke Sintang untuk dikenalkan ke keluarga,” tutur Agnes.
Namun, rencana tersebut harus pupus setelah Aprianus gugur dalam tugas. Kabar duka itu bahkan pertama kali diterima Agnes dari kekasih anaknya.
“Dia yang nelpon saya sambil menangis. Dia bilang, ‘Apri kita sudah tidak ada lagi,’” kenangnya.
Kini, keluarga hanya bisa mengenang sosok Aprianus sebagai prajurit yang berdedikasi sekaligus anak yang penuh kasih kepada orang tua. Mereka berharap pengorbanannya mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan.






