BERITA-AKTUAL.COM – Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sintang, Edy Harmaini mengakui bahwa terjadi penurunan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) di Bumi Senentang.
“Dulu sih banyak, sekitar 33 TPS yang tersebar di Kelam Permai, Sepauk serta Sintang. Sekarang sudah banyak pengurangan-pengurangan,” ungkap Edy.
Ia mengatakan, penyebab TPS dikurangi ada beberapa hal. Pertama, letak TPS yang berada di jalan protokol atau tempat tertentu yang didikeluhkan warga.
“Ada TPS di jalan-jalan tertentu lokasinya tidak tepat, seperti di tikungan, tanjakan maupun dekat kantor-kantor pemerintahan. Contohnya dekat Kompi Bantuan maupun depan Lapas Kelas II B Sintang,” beber Edy.
Kemudian, kata Edy, ada juga TPS yang rawan kecelakaan. Contohnya TPS di tugu selamat datang. “Di tempat itu beberapa kali orang yang buang sampah mengalami kecelakaan,” katanya.
“Kemudian di BTN Mata Bola, orang buang sampah juga ada yang mengalami kecelakaan karena memang TPS-nya berada di tikungan, di pinggir jalan. Memang di pinggir jalan protokol tidak boleh ada TPS. Ini sesuai arahan UPJJ Provinsi Kalbar,” ungkap Edy.
Kedua, penyebab TPS berkurang terkait masalah tanah. Saat ini Pemda Sintang tak punya tanah untuk meletakkan TPS.
“Contoh di TPS Mata Bola dan tempat-tempat lain, rata-rata tanahnya bukan milik Pemda, tapi milik perorangan. Ketika pemilik ingin menggunakan tanah tersebut, jadi tidak ada lagi tempat untuk TPS,” katanya.
Dikatakan Edy, ketika pertama kali menjabat sebagai Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sintang, dirinya sudah beberapa kali berkomunikasi dengan Lurah maupun Kades terkait masalah TPS.
“Saya bilang, kalau ingin ada TPS, siapkan tanahnya. Mereka beralasan tidak punya tanah yang strategis untuk TPS. Memang, TPS itu seharusnya agak jauh dari pemukiman, agak ke dalam supaya ndak tampak, itu yang tidak ada,” bebernya.
Melihat kondisi tersebut, kata Edy, pihaknya berpikir untuk menyiapkan beberapa TPS yang benar-benar bagus. “Untuk masyarakat yang tidak sempat buang sampah dengan alasan jauh, kenapa tidak memanfaatkan LPM? Jadi kita memanfaatkan tenaga-tenaga dari kelurahan, jadi kawan-kawan karang taruna yang jemput ke rumah-rumah,” jelasnya.
“Sekarang sudah berjalan. Tapi masih ada masyarakat yang tidak mau langganan, ndak mau buang sampah di tempat yang kita tentukan. Padahal kita mau mengubah, karena di tempat strategis ndak mungkin kita letakkan TPS, maka kita siapkan satu tempat. Tapi kita ada juga pelayanan melalui karang taruna. Itu yang kita inginkan,” pungkasnya.





