SINTANG – Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Sintang, Martin Nandung mengatakan bahwa keberhasilan dalam mencapai pembangunan perkebunan berkelanjutan sangat ditentukan oleh beberapa faktor.
Salah satunya adalah sumber daya manusia yang berkualitas dan memiliki komitmen untuk membangun sektor perkebunan.
Ia mengatakan, dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, beberapa negara termasuk Indonesia dihadapkan pada permasalahan yang cukup serius di bidang pertanian, dimana jumlah tenaga kerja usia muda mengalami penurunan.
“Untuk mengatasi kendala tersebut berbagai macam program yang telah dilakukan pemerintah untuk menumbuhkembangkan minat generasi muda agar mau terlibat dalam usaha sector pertanian khususnya perkebunan,” jelasnya.
Bentuk komitmen pemerintah dalam melahirkan jutaan petani milenial tersebut mendorong BPPSDMP menetapkan tiga ciri generasi petani milenial dimana petani milenial berusia 19 – 39 tahun, memiliki jiwa milenial, bersifat adaptif terhadap teknologi digital, dan tentunya memiliki jaringan kerjasama usaha.
“Melalui langkah yang diambil kementerian ini diharapkan dapat mempercepat pembangunan sektor pertanian, karena secara nasional persentase jumlah usia muda yang bekerja di sektor pertanian terus menerus mengalami penurunan terutama dalam satu dekade terakhir ini,” jelasnya.
Menurut data Badan Pusat Statistik, tahun 2011 jumlah pemuda yang bekerja pada sektor pertanian tercatat 29,18 persen, kemudian tahun 2021 angkanya merosot menjadi 19,18 persen. Angka tersebut memperlihatkan bahwa minat usia muda untuk bekerja pada sektor pertanian cukup rendah.
Sedangkan menurut data BPS pada tahun 2018 menunjukkan dari total jumlah petani Indonesia sebanyak 33,49 juta jiwa, dapat dilihat petani dengan usia di bawah 25 tahun sebanyak 885.077 petani. Petani yang berusia 25 – 34 tahun tercatat sebanyak 4,1 juta jiwa. Sedangkan petani dalam kelompok usia 35 – 44 tahun sebanyak 8,17 juta jiwa.
Kelompok usia yang mendominasi profesi petani berada pada rentang usia 45 – 54 tahun, yakni sebanyak 9,19 juta jiwa. Kondisi tersebut tentunya menjadi tantangan bagi Negara kita.
“Kabupaten Sintang, Sanggau dan Kapuas Hulu merupakan wilayah yang berbatsan dengan Negara tetangga secara langsung menjadi sangat penting dalam peningkatan usaha sector komoditas unggulan yakni kelapa sawit. Dengan peningkatan peran serta petani milenial dengan konsep berkelanjutan diharapkan sector perkebunan kelapa sawit menjadi lebih maju dan modern serta berdaya saing dengan negara tetangga kita sehingga perkerja milenial tidak tertarik lagi menjadi buruh kasar di negara tetangga seperti Malaysia,” ujarnya.





