BERITA-AKTUAL.COM – Menggandeng Ikatan Jurnalis Sintang (IJS), Hartono Plantation Indonesia (HPI) melalui anak perusahaannya yakni PT Buana Hijau Abadi kembali menyalurkan bantuan sosial (bansos) bertepatan dengan bulan suci Ramadan.
Kali ini, bantuan HPI Peduli tersebut disalurkan ke Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Auliya di Gang Perintis, Jalan Kelam, Kecamatan Sintang pada Minggu 7 April 2023.
Bantuan berupa sembako dan uang tunai diserahkan langsung oleh Humas PT BHA Paulus Nokus didampingi Burodo Nainggolan Manager Humas dan Muhammad Ilyas selaku CSR PT Buana Hijau Abadi (HPI Group).
Darul Auliya merupakan pondok pesantren yang mengurus anak yatim maupun kaum duafa secara gratis. Para santri tak hanya difasilitasi tempat tinggal, tapi juga diberikan pendidikan di sekolah formal.
Ponpes Darul Auliya sendiri baru beroperasi sekitar dua tahun. Kondisinya sangat sederhana, dengan kapitas kamar yang hanya muat 20 anak, sementara total santri berjumlah 45 orang.
Humas PT BHA Paulus Nokus mengatakan bahwa pemberian bantuan sosial tersebut merupakan salah satu program rutin perusahaan ketika bulan Ramadan. Adapun sasaran penyaluran bantuan sosial berbeda-beda, bisa panti asuhan, pondok pesantren dan sejumlah lembaga lainnya.
“Bantuan sosial ini juga bagian dari program CSR, mengingat HPI tersebar di Sintang, Sanggau, Landak hingga Mempawah. Mengapa kita ajak media, supaya informasi bisa tersampaikan secara luas ke publik. Sehingga banyak pihak lain bisa tergerak hatinya untuk membantu ponpes ini,” harapnya.
“Karana yang saya lihat Ponpes Darul Auliya ini sangat sederhana, perlu ada uluran tangan dari banyak pihak agar mereka punya sarana yang bagus dan layak. Apalagi visi misi Ponpes sangat bagus,” ujar Paulus Nokus.
Pengasuh Ponpes Darul Auliya, Ustad Muhammad Haydar mengucapkan terima kasih atas bantuan dari HPI. Ia mengatakan bantuan tersebut sangat bermanfaat untuk para santri.
Ia mengungkapkan bahwa saat ini lembaga yang dipimpinnya itu mengurusi 45 orang santri tanpa dipungut biaya.
“Ponpes ini mengurus anak yatim, ada yang orang tuanya di penjara kita tampung di sini, anak yang orang tua tidak tau kemana juga kita bantu, termasuk kaum duafa. Selain belajar agama, santri di sini juga bebas memilih sekolah formal, jadi tidak boleh ada yang putus sekolah,” jelasnya.
Ia mengatakan, untuk menjalankan operasional ponpes selama ini dilakukan dengan upaya sendiri karena belum ada donatur. Namun banyak pihak telah membantu sehingga ponpes tetap beroperasi meski dengan fasilitas sederhana.
“Pondok ini 80 persen dibangun dengan material bekas. Pembangunan Pondok ini tujuannya hanya ingin menjadi bagian dari perubahan suatu bangsa, anak-anak kita harus dididik, terutama ahlaknya,” ujarnya.





