IJS Gelar Diskusi Publik, Bahas Hoax, Ujaran Kebencian Hingga Intoleransi

oleh
- Ikatan Jurnalis Sintang menggelar diskusi publik dengan tema "Peran Media dalam Menangkal Hoax dan Ujaran Kebencian serta Mengatasi Isu Intoleransi di Kabupaten Sintang

BERITA-AKTUAL.COM – Ikatan Jurnalis Sintang menggelar diskusi publik dengan tema “Peran Media dalam Menangkal Hoax dan Ujaran Kebencian serta Mengatasi Isu Intoleransi di Kabupaten Sintang”. Diskusi berlangsung di di Canopy Center Sintang, Sabtu 12 Maret 2022.

Diskusi Publik tersebut menghadirkan tiga narasumber, yakni dari Badan Kesbangpol Sintang, Polres Sintang dan pengamat sosial Sintang. Sedangkan peserta diskusi terdiri dari sejumlah awak media Sintang, unsur organisasi pemuda, pimpinan organisasi masyarakat dan sejumlah penggiat media sosial.

Pengamat sosial Kabupaten Sintang, Ireng Maulana mengatakan bahwa pers merupakan pilar ke empat demokrasi yang harus terus dijaga dan dirawat. Hasil kinerja pers sangat dibutuhkan untuk kemajuan demokrasi.

“Karya para jurnalis, terutama di daerah masih diharapkan sebagai fungsi kontrol terhadap kinerja pemerintah daerah,” kata Ireng.

Ireng Maulana menyatakan, peran pers cukup ampuh sebagai salah satu saluran penyambung suara masyarakat untuk memastikan kebijakan lokal masih berpijak kepada kepentingan publik.

“Peran pers dan karya jurnalis di lapangan akan terus mendorong penguatan proses demokratisasi di daerah dengan terus mengedukasi masyarakat melalui informasi yang kredibel dan berimbang,” ucapnya.

Ditegaskan Ireng, masyarakat hingga saat ini masih memerlukan fungsi jurnalis untuk  membantu mpublik untuk mengakses pemberitaan yang baik dan benar.

“Hari-hari ini, kita juga melihat kemunculan media sosial sebagai saluran bertukar informasi bagi publik. Namun, informasi dari platform ini juga melahirkan ancaman seperti hoax dan ujaran kebencian, ” ucapnya.

Seiring dengan fenomena disrupsi informasi yang berkembang karena platform media sosial menyebarkan informasi tanpa kaidah jurnalistik. Maka, berita berbasis media sosial sangat rentan berisi kebohongan, fitnah, adu domba dan provokasi.

“Oleh karena itu, peran pers dan kekuatan tulisan jurnalistik harus terus berkembang untuk mengimbangi dominasi media sosial yang tidak memiliki mekanisme kontrol terhadap isi yang mereka sampaikan kepada publik, ” pungkasnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.