BERITA-AKTUAL.COM – Kepala Bidang Pengembangan Perkebunan Dinas Pertanian dan Perkebunan Sintang, Arif Setya Budi kendala dalam pengembangan karet rakyat, salah satunya harga rendah dan banyaknya kebun yang dikonversikan ke perkebunan kelapa sawit.
“Untuk harga karet, kita berpatokan pada harga pasar komoditas. Harganya kan sudah pasti, misalnya harga dunia Rp 18 ribu per kilogram,” kata Arif
Yang bisa dilakukan oleh pemerintah, kata Arif, hanya bisa memperpendek rantai pasok, agar pabrik membeli ke petani tidak terlalu jauh selisih harganya, tentunya dengan memperhatikan banyak hal.
“Nah melalui peta jalan ini kita atur bagaimana agar kelembagaan petani kontraknya bisa langsung dengan pabrik atau tidak melalui pengepul lagi,” ujarnya.
Manager Community and Smallholder Forestry Rainforest Aliance, Mohammad Zainuri Hasyim mengakui banyak tantangan dalam pengelolaan komoditi karet, mengingat saat ini harganya terus turun bahkan banyak kebun yang dikonversikan menjadi perkebunan sawit.
“Ini kondisi anomali dalam konteks perdagangan, saat produksi menurun harga tidak naik. Ini kan anomali ya. Tapi secara produksivitas, kita memang rendah dibanding negara lain seperti Thailand dan Vietnam,” jelasnya.
“Belum lagi data luasan perkebunan karet yang masih menggunakan data lama, makanya perlu update. Nah peta jalan ini salah satunya akan menjawab permasalahan ini,” jelasnya.
Karet adalah salah satu komoditas utama yang dikelola oleh masyarakat di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Komoditas ini telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam budaya pertanian turun-temurun, tersebar di seluruh wilayah dan menjadi pilar utama dalam perekonomian sehari-hari masyarakat Kabupaten Sintang.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, sektor karet di Kabupaten Sintang menghadapi berbagai tantangan, seperti produktivitas rendah, penurunan harga karet, dan kendala akses terhadap sarana produksi pertanian yang mutakhir. Selain itu, ada permasalahan terkait dengan deforestasi yang dihubungkan dengan produksi karet.






