SINTANG – Wakil Bupati Sintang, Florensius Ronny, mendorong petani di Desa Perembang, Kecamatan Sungai Tebelian, untuk terus berinovasi dalam meningkatkan nilai tambah hasil pertanian, khususnya komoditas cabe.
Hal tersebut disampaikan Ronny saat menghadiri kegiatan tanam cabe oleh Kelompok Tani Sumber Pedas di desa tersebut, Senin 13 Oktober 2025.
Ronny menyampaikan apresiasinya atas dukungan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat terhadap program pertanian di Sintang. Ia menilai, bantuan yang diberikan, meski masih terbatas, telah menjadi motivasi besar bagi petani untuk mandiri.
“Kami tentu menyambut baik dan berterima kasih atas perhatian pemerintah provinsi. Walaupun bantuannya baru dua hektar dari total 30 hektar yang diajukan, ini sudah sangat membantu dan menjadi inspirasi. Kalau dua hektar dibantu, tapi kita bisa tanam 40 hektar, berarti 38 hektar itu hasil kemandirian masyarakat. Inilah tujuan sesungguhnya dari pemerintah,” ujar Ronny.
Wabup juga menyoroti masalah fluktuasi harga cabe dan hasil pertanian lainnya, yang kerap membuat petani kesulitan menentukan langkah produksi. Menurutnya, pemerintah daerah tidak bisa memaksa harga pasar, namun bisa mendorong inovasi untuk menjaga stabilitas ekonomi petani.
“Dalam dunia pertanian, harga sangat bergantung pada suplai dan permintaan. Saat barang banyak tapi permintaan tetap, harga turun. Maka yang bisa kita lakukan adalah inovasi. Salah satunya melalui pengolahan hasil panen agar nilai produknya meningkat,” jelas Ronny.
Ia pun mengusulkan agar pemerintah desa bersama kelompok tani dan koperasi mempertimbangkan pendirian pabrik mini pengolahan cabe di wilayah tersebut. Dengan adanya pabrik, harga cabe bisa lebih stabil karena hasil panen dapat diolah menjadi produk kemasan seperti sambal atau bubuk cabe.
“Kalau koperasi yang mengelola, mereka tidak perlu mengambil untung besar. Kita bisa sepakati harga dasar, misalnya Rp40 ribu per kilogram, agar petani tetap untung. Produk olahan juga memiliki nilai tambah dibanding cabe mentah,” katanya.
Ronny menjelaskan, rencana tersebut bisa disinergikan melalui program Koperasi Merah Putih atau bekerja sama dengan Bank Indonesia. Ia membuka peluang bagi desa untuk melakukan studi banding ke daerah lain yang sudah berhasil mengembangkan industri olahan cabe.







