SINTANG – Yohanes Rumpak resmi memimpin Dewan Pengurus Daerah Ikatan Cendikiawan Dayak Nasional (DPD ICDN) Kabupaten Sintang periode 2025–2030. Ia dilantik langsung oleh Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) ICDN Provinsi Kalimantan Barat, Heri Saman, di Pendopo Bupati Sintang, Sabtu (18/4/2026).
Pelantikan dan pengukuhan tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Sintang Florensius Ronny, unsur Forkopimda, jajaran pengurus ICDN Sintang, tokoh Dayak, serta mahasiswa.
Ketua Panitia Pelantikan, Nikodemus, menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan juga diisi dengan seminar yang menghadirkan sejumlah akademisi, yakni Herpanus, Ph.D (Wakil Ketua Bidang Nonakademik STKIP Persada Khatulistiwa Sintang), Dr. Antonius (Rektor Unka Sintang), serta RD Leonardus Miau (Vikaris Jenderal Keuskupan Sintang).
Dalam sambutannya, Yohanes Rumpak menegaskan komitmennya untuk membawa ICDN Sintang menjadi wadah pemersatu intelektual Dayak sekaligus penghasil gagasan strategis bagi pembangunan daerah.
“ICDN hadir di Sintang sejak lima tahun lalu untuk menyatukan intelektual Dayak dari berbagai profesi. Kita membutuhkan perdamaian dan keadilan. Perdamaian hanya bisa terwujud jika keadilan dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, ICDN harus menjadi ruang diskusi yang produktif dalam melahirkan ide-ide cerdas demi mendorong keadilan di berbagai sektor kehidupan.
“Apakah keadilan sudah baik di Sintang? Menurut saya belum. Karena itu, ICDN harus terlibat dalam menentukan arah kemajuan daerah. Bahkan saya siapkan rumah pribadi sebagai sekretariat ICDN untuk tempat diskusi,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua DPW ICDN Kalbar, Heri Saman, menjelaskan bahwa ICDN berdiri sejak 2019 dan telah memiliki legalitas resmi sejak 2020. Organisasi ini bertujuan menyatukan intelektual Dayak tanpa memandang latar belakang politik, profesi, maupun agama.
“Kita ingin menghimpun pemikiran untuk kemajuan Dayak ke depan, sekaligus mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia,” katanya.
Ia juga mendorong agar masyarakat Dayak tidak hanya menjadi penonton dalam pengelolaan sumber daya alam, tetapi turut berperan aktif sebagai pelaku. Selain itu, ia mengingatkan pentingnya keaktifan pengurus dalam menjalankan organisasi.
“ICDN Sintang harus aktif menggelar seminar, diskusi, dan riset, serta bisa bersinergi dengan masyarakat adat. Bahkan bisa mendorong lahirnya Perda yang melindungi masyarakat Dayak,” pesannya.
Wakil Bupati Sintang, Florensius Ronny, berharap ICDN dapat berkontribusi nyata dalam pembangunan daerah, terutama dalam menghadapi berbagai tantangan ke depan.
“Sintang adalah miniatur Indonesia, dengan keberagaman suku dan agama. ICDN diharapkan mampu merangkul semua pihak dan berperan dalam pembangunan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti sejumlah isu strategis, seperti potensi kemarau panjang dan angka kemiskinan yang masih berada di kisaran 8 persen atau sekitar 40 ribu jiwa pada tahun 2025.
“Kami berharap ICDN dapat memberikan masukan, hasil riset, dan kajian kepada pemerintah daerah untuk bersama-sama menurunkan angka kemiskinan,” tambahnya.
Selain itu, ia menyinggung masih minimnya putra daerah yang menduduki posisi strategis di perusahaan besar di Sintang.
“Ke depan, kualitas SDM harus terus ditingkatkan agar masyarakat lokal bisa menempati posisi penting, seperti manajer atau general manager di perusahaan yang berinvestasi di Sintang,” pungkasnya.





