SINTANG – Panitia Gawai Dayak Kabupaten Sintang ke-XIII Tahun 2026 menambahkan satu perlombaan baru dalam rangkaian kegiatan tahun ini, yakni lomba menangkap babi. Perlombaan tersebut digelar sebagai upaya melestarikan tradisi masyarakat Dayak sekaligus memperkenalkannya kepada tamu dari luar daerah hingga mancanegara.
Ketua Panitia Gawai Dayak Kabupaten Sintang ke-XIII, Toni, mengatakan lomba menangkap babi merupakan salah satu inovasi yang diakomodasi dalam pelaksanaan Gawai Dayak tahun ini.
“Tahun ini ada tambahan perlombaan khusus, yaitu menangkap babi. Tahun lalu belum ada, tetapi tahun ini kita akomodir,” ujarnya, Senin (6/7/2026).
Perlombaan tersebut rencananya akan digelar di halaman Rumah Betang Tampun Juah Sintang. Menurut Toni, kegiatan itu tidak sekadar menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari upaya melestarikan tradisi yang telah lama hidup di tengah masyarakat Dayak.
Ia menjelaskan, tradisi menangkap babi merupakan salah satu kearifan lokal yang perlu terus dijaga agar tidak tergerus perkembangan zaman. Karena itu, panitia ingin menjadikan perlombaan tersebut sebagai salah satu atraksi budaya yang dapat dinikmati para pengunjung.
Apalagi, pada pelaksanaan Gawai Dayak tahun ini panitia memastikan kehadiran tamu dari Malaysia. Momentum tersebut akan dimanfaatkan untuk memperkenalkan salah satu tradisi khas masyarakat Dayak di Kabupaten Sintang kepada tamu mancanegara.
“Esensinya, kita ingin menampilkan budaya menangkap babi ini. Ada momen yang ingin kita viralkan karena nanti ada tamu dari Malaysia. Kita ingin mereka melihat bahwa ini adalah salah satu tradisi khas masyarakat Dayak di Kabupaten Sintang,” katanya.
Toni berharap penambahan perlombaan tersebut dapat memperkaya rangkaian kegiatan Gawai Dayak ke-XIII sekaligus menjadi daya tarik bagi masyarakat maupun wisatawan yang datang ke Sintang.
Menurutnya, Gawai Dayak bukan hanya menjadi ajang menampilkan seni dan budaya, tetapi juga wadah memperkenalkan berbagai tradisi lokal yang masih dipertahankan oleh masyarakat Dayak hingga saat ini.
“Tujuan utamanya adalah melestarikan adat setempat, khususnya tradisi menangkap babi yang menjadi bagian dari budaya masyarakat Dayak Kabupaten Sintang,” pungkasnya.






