Cegah Penyebaran DBD, Harisson Minta Semua Elemen Peduli Lingkungan 

oleh
Pj Gubernur Kalbar, Harisson , didampingi Kadiskes Kalbar Erna Yulianti saat mengecek gentong dan tempayan dirumah warga

PONTIANAK, BERITA-AKTUAL.COM – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kalimantan Barat meningkat. Hal tersebut membuat keresahan di kalangan masyarakat. Berbagai upaya pun dilakukan untuk pencegahannya.

Seperti yang disampaikan Penjabat Gubernur Kalimantan Barat, Harisson. Dengan tegas dirinya meminta bupati dan walikota di Kalbar untuk turun langsung mengajak masyarakat melakukan gerakan membersihkan lingkungan, seperti mengaktifkan Gerakan Jumat Bersih, dalam upaya pencegahan DBD di wilayah masing-masing.

“Saya minta Wali Kota dan Bupati harus turun langsung ke masyarakat. Mari kita aktifkan lagi gerakan jumat bersih tujuannya untuk mengajak masyarakat bersama sama peduli menghilangkan tempat-tempat yang akan menjadi tempat genangan air sehingga menjadi sarang nyamuk berkembang biak,” ujar Harisson, (10/11).

Pencegahan DBD kata Harisson diperlukan kepedulian langsung dari masyarakat itu sendiri. Diantaranya dimulai dari peduli dengan lingkungan rumah dan sekitarnya, serta menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), melakukan 3M yakni menguras, menutup dan mendaur ulang, serta Pemberatan Sarang Nyamuk (PSN).

“Sejauh ini masih banyak ditemukan masyarakat yang menampung air di tong atau tempayan, serta membiarkan tempat -tempat yang bisa menampung air seperti gelas dan botol berserakan di halaman rumah atau ditempat sampah yang bisa menyebabkan air tertampung, yang bisa menyebabkan sarang nyambul berkembang. Maka dari itu, kebiasaan tersebut harus diubah,” terangnya.

Kalau masyarakat tidak peduli dengan membiarkan tempayan dan tong air terbuka dan sampah gelas serta botol air dan yang bisa menampung air berserakan, maka siapa lagi kata Harisson yang harus peduli.

“Makanya kita harus sama-sama peduli. Cegah nyamuk untuk berkembang biak, sebab itu bisa menyebabkan penyebaran penyakit, yang ujung -ujungnya akan berdampak kepada masyarakat sendiri,” terangnya.

Intinya kata Harisson semua harus peduli lingkungan, termasuk pemerintah daerah terutama Wali Kota dan Bupati harus turun bersama perangkat daerah, tidak hanya dinas kesehatan saja.

“Jadi unsur elemen harus turun dengan membagi wilayah dalam upaya pencegahan DBD” pungkasnya.

Sebagaimana diketahui, berdasarkan data yang dirilis Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar, sampai minggu ke-44 kasus kematian akibat penyakit DBD  Kalbar mencapai 50 kasus. Kelompok usia 5 sampai dengan 15 tahun mendominasi. Kasus kematian tertinggi akibat DBD ditemukan di Kabupaten Mempawah 11 Kasus, Sintang 8 Kasus, Sanggau 6 Kasus, dan Sekadau 5 kasus, serta Kubu Raya 4 kasus. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.