Dulu Dipakai Jokowi, Kini Kain Pantang Sintang Motif Ruit Besai Diakui Negara

oleh
Kepala Kanwil Kementerian Hukum Kalimantan Barat Jonny Pesta Simamora didampingi Anggota DPR RI Paolus Hadi menyerahkan Surat Pencatatan Ciptaan atas kain tenun motif Ruit Besai yang sempat dipakai mantan Presiden Joko Widodo saat KTT World Water Forum di Bali tahun 2024.

SINTANG – Kain Pantang Sintang motif Ruit Besai yang sempat dipakai mantan Presiden Joko Widodo saat KTT World Water Forum di Bali tahun 2024 kini resmi diakui negara sebagai Kekayaan Intelektual (KI).

Pengakuan tersebut ditandai dengan penyerahan Surat Pencatatan Ciptaan dari Kementerian Hukum RI kepada pencipta motif atas nama Hetty Kus Endang dan Solomina Wati. Sementara pemegang hak cipta tercatat atas nama Galeri Kain Pantang Sintang.

Penyerahan dilakukan langsung Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum Kalimantan Barat Jonny Pesta Simamora didampingi Anggota DPR RI Paolus Hadi di Rumah Betang Ensaid Panjang, Kecamatan Kelam Permai, Kabupaten Sintang, Kamis 7 Mei 2026. Hadir juga jajaran Pemkab Sintang dan Dekranasda Sintang.

Dalam kesempatan itu turut diserahkan Piagam Penetapan KBKI (Kawasan Berbasis Kekayaan Intelektual) kepada Yayasan Rumah Belajar Kain Pantang, Surat Pencatatan Ciptaan kepada Marselina Evy atas buku Takui Darek dan Surat Pencatatan Ciptaan kepada Sanli Risna atas karya musik yakni Lagu Rohani Dayak ‘Kasih Petara’.

Solomina Wati, penenun asal Desa Umin Jaya yang menciptakan motif Ruit Besai, mengaku bangga karena hasil karyanya mendapat pengakuan resmi dari negara. Ia tak menyangka motif yang dibuatnya bahkan pernah dikenakan Jokowi saat forum internasional di Bali.

Solomina menceritakan proses pembuatan motif tersebut dilakukan hampir satu bulan. Saat itu dirinya baru 17 hari melahirkan namun tetap ikut menenun kain tersebut.

“Belum lama setelah melahirkan, kak Hetty sering ke Umin dan bilang mereka sering bikin kain pantang. Walaupun masih punya bayi, saya langsung ikut membuat tenun ikat motif Ruit Besai. Itulah motif yang dipakai Pak Jokowi,” ujarnya.

Ia mengaku awalnya tidak mengetahui bahwa kain tersebut akan digunakan oleh Jokowi. Saat itu dirinya hanya memenuhi pesanan kain sepanjang tiga meter dari Hetty Kus Endang.

“Kebetulan kain tenun saya yang dipesan panjangnya tiga meter. Setelah itu langsung dibuatkan baju dan ternyata dipakai Pak Jokowi. Ya bersyukur sekali,” katanya.

Menurut Solomina, kain tenun motif Ruit Besai dibuat menggunakan pewarna alami dan seluruh proses pengerjaan dilakukan secara manual dengan tangan.

“Pewarnanya alami, menggunakan daun Engkerebang,” jelasnya.

Sementara itu, Hetty Kus Endang selaku pembina Yayasan Rumah Belajar Kain Pantang Sintang mengatakan pengakuan kekayaan intelektual menjadi langkah penting dalam melindungi karya para artisan dan pengrajin lokal.

“Kalau kita bicara tentang kain pantang, kita bicara tentang kekayaan intelektual. Hari ini Kementerian Hukum Kalimantan Barat menyerahkan piagam kepada Yayasan Rumah Belajar Kain Pantang sebagai kawasan berbasis kekayaan intelektual komunal,” ujarnya.

Hetty menjelaskan di bawah binaan yayasan terdapat artisan dan pelaku UMKM yang menghasilkan berbagai karya kreatif mulai dari buku, musik hingga motif kain tenun yang sudah dikenal secara nasional maupun internasional.

Ia menyebut motif-motif kain pantang Sintang sebelumnya juga dikenakan oleh Jokowi dan 32 delegasi kepala negara saat World Water Forum 2024 di Bali.

“Nah kami pikir karena ini adalah karya yang sudah mulai dikenal secara nasional maupun internasional, maka harus cepat didaftarkan HAKI-nya sehingga menjadi hak kekayaan intelektual para artisan,” jelas Hetty.

Menurutnya, Galeri Kain Pantang Sintang selama ini juga menjadi media partner para artisan untuk mempromosikan produk-produk tenun hingga ke tingkat nasional dan internasional.

“Ini merupakan ekosistem yang harus dibangun, mulai dari komunitas pengrajin sampai bagaimana merek dagang dan karya cipta mereka dilindungi,” pungkasnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.