SINTANG – Sekretaris Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Kabupaten Sintang, Gunardi mengungkapkan bahwa harga komoditi karet sekarang mulai membaik.
“Di sini, harganya mungkin sekitar Rp 8 ribu atau Rp 9 ribu per kilogram. Tapi di pedalaman atau di daerah, mungkin sekitar Rp 5 ribu atau Rp 4 ribu per kilogram,” ungkap Gunardi ketika ditemui berita-aktual.com, belum lama ini.
Ia menilai, salah satu penyebab harga karet di pedalaman lebih rendah karena faktor kerusakan jalan atau infrastruktur yang berat.
“Itu yang memengaruhi penyusutan segala macam. Dalam tata niaga dihitung semuanya. berapa keuntungan tengkulak di desa, di kecamatan maupun di kabupaten, mereka itu mengambil untung semua,” jelasnya.
“Belum lagi kalau tekor karena alat transportasinya rusak dan sebagainya, itu juga jadi perhitungan. Makanya kalau jalan kabupaten bagus, maka secara langsung akan memperbaiki tingkat pendapatan petani,” kata Gunardi.
Untuk mengatasi hal ini, kata Gunardi, pihak terkait harus duduk bersama. Agar diketahui secara jelas di mana sentra-sentra kelapa sawit, sentra karet, sentra lada, maupun sentra cabe di Kabupaten Sintang.
“Di mana sentra-sentra komoditi unggulan, seharusnya dibuat jaringan transportasi yang baik ke arah situ. Supaya angkutan pupuk jadi murah, ya kan. Pupuk di sini berapa, di sana berapa, kan selisihnya tidak terlalu jauh kalau jalan bagus,” katanya.
“Sekarang ini, karena jalan rusak harga pupuk di desa atau kampung-kampung lebih tinggi. Sangat jauh lebih tinggi dibanding harga di kota. Ini tentu jadi beban petani dalam meningkatkan pendapatan mereka,” pungkasnya.





