SINTANG – Istana Al Mukarramah atau yang dikenal sebagai Keraton Sintang menjadi salah satu pusat sejarah dan budaya penting di Kabupaten Sintang. Istana ini terletak di kawasan Sakatiga, tepat di pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Melawi, lokasi strategis yang sejak dahulu menjadi jalur perdagangan dan peradaban.
Iwan Purwanto dari Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Sintang mengatakan, Istana Al Mukarramah bukan sekadar bangunan bersejarah, melainkan simbol perjalanan panjang pemerintahan dan kebudayaan di Sintang. “Keraton ini menyimpan banyak nilai historis yang menjadi identitas daerah,” ujarnya.
Salah satu fakta menarik dari keraton ini adalah keterkaitannya dengan lahirnya lambang negara. Sultan Hamid II disebut terinspirasi dari lambang Kesultanan Sintang berupa patung Garuda kayu saat merancang Garuda Pancasila.
Selain itu, keraton ini menjadi saksi akulturasi budaya dari masa Kerajaan Sintang bercorak Hindu pada abad ke-13 hingga bertransformasi menjadi kesultanan Islam. Dari sisi arsitektur, bangunan yang didirikan pada 1937 tersebut bergaya kolonial Belanda dan menggunakan material kayu belian yang dikenal sangat kokoh dan tahan lama.
Di dalamnya tersimpan berbagai koleksi bersejarah, seperti Batu Kundur, Hantaran Patih Logender, Meriam Raja Suka dan Meriam Anak Raja Suka, naskah Al-Qur’an tulisan tangan beserta silsilah raja, hingga senjata tradisional dan alat musik Dayak.
Menurut Iwan, keberadaan Istana Al Mukarramah diharapkan terus menjadi daya tarik wisata sejarah sekaligus sarana edukasi bagi generasi muda untuk mengenal akar budaya dan perjalanan panjang Kabupaten Sintang.







