Jalan Produksi jadi Kendala Utama Petani Sawit Mandiri

oleh

SINTANG – Kepala Bidang (Kabid) Pengembangan Perkebunan Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Kabupaten Sintang, Arif Setya Budi mengungkapkan bahwa kendala utama yang dialami petani sawit mandiri adalah jalan produksi.

“Kendala utama itu jalan produksi. Itu saja. Karena berpengaruh pada biaya angkut yang makin mahal,” kata Arif pada berita-aktual.com belum lama ini.

Kalau untuk penampung, kata Arif, sekarang banyak pabrik. Tapi kita tidak mengenal yang namanya penampung atau Ram. Dalam Permentan, kemitraan antara petani sawit langsung ke pabrik.

“Jadi ndak ada istilah penampung. Namun praktek di lapangan, tidak bisa kita pungkiri banyak sekali ditemukan bahwa adanya pihak ketiga. Padahal seharusnya petani langsung bermitra dengan pabrik,” katanya.

Tapi hal ini bisa maklumi, karena etika petani ingin menjual Tandan Buah Segar (TBS) tentu ingin pembayaran secara cash atau tunai. Sementara pembayaran di pabrik tidak secara tunai.

“Nah aturan itu yang perlu digodok. Agar ketika petani jual TBS ke pabrik, mereka bisa mendapatkan pembayaran langsung secara cash. Sebenarnya itu cara meminimalisir rantai pasok menjadi lebih pendek,” katanya.

“Pabrik juga harus mengakomodir bahwa dia wajib bayar cash. Selama ini pembayaran kan per 15 hari atau per minggu. Sementara petani pasti menginginkan ketika menjual TBS, mereka langsung dapat uang,” ujar Arif.

Karena hal ini, kata Arif, makanya timbul yang namanya Ram (penampung). “Saat ini banyak Ram muncul. Karena begitu jual ke Ram, pembayarannya langsung cash,” pungkasnya.

 

 

No More Posts Available.

No more pages to load.