SINTANG – Kelangkaan gas elpiji 3 kilogram tidak akan terjadi kalau penyaluran dilakukan dengan benar. Makanya pangkalan harus benar-benar menyalurkan ke masyarakat, bukan spekulan.
Demikian disampaikan Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Kabupaten Sintang, Arbudin.
Oleh karena itu, Arbudin menilai bahwa penyebutan operasi pasar untuk elpiji 3 kilogram sebenarnya tidak tepat.
“Karena apa? Karena untuk elpiji ini alur distribusinya sangat jelas. Ada agen yang bertanggung jawab ke pengkalan, contohnya untuk Ketungau Hulu. Biasanya kan pangkalan dapat jatah 200 tabung. Dan pangkalan ini menyebar ke desa-desa. Makanya saya bilang tadi, kalau semua pangkalan menyalurkan dengan benar, kelangkaan elpiji tidak akan terjadi,” katanya lagi.
Ditanya apakah akan membentuk satgas penanganan elpiji, Arbudin menyebut hal itu akan dipertimbangkan setelah bertemu Pertamina dan instansi terkait.
Pihaknya juga berencana mempertanyakan mengapa banyak pangkalan bodong di Ketungau Hulu.
“Soal pangkalan bodong ini akan kita tanya, mengapa nama pangkalannya ada, tapi pangkalan dan orangnya tidak ada. Mengapa kita pertanyakan ke Pertamina, karena agen atau pangkalan merupakan kewenangn mereka,” jelasnya.
Karena semua izin agen atau pangkalan dari Pertamina. Pengajuanya dari masyarakat mungkin atas rekomendasi desa lalu diajukan ke Pertaminan.
“Nanti Pertamina yang menunjuk mereka sebagai agen, tentunya setelah prosedur di jalani. Nah ketika dalam perjalannya ada pangkalan bodong, proses ini akan kita benahi bersama pemerintah. Supaya keberadaan agen atau pangkalan lebih tepat dan terarah. Sehingga masyarakat bisa mendapat gas dengan mudah,” ujarnya.





