SINTANG – Kepala Sekretariat Tim Pelaksana Daerah Kelapa Sawit Berkelanjutan (TPD-KSB) Kabupaten Sintang, Arif Setya Budi mengungkapkan tujuan pelaksanaan lokakarya refleksi TPD-KSB Kabupaten Sintang di Meeting Room Bagoes Hotel, Selasa 20 Mei 2024. Salah satunya mengevaluasi apakah target pada fase 1 sudah tercapai atau tidak.
“Melalui evaluasi ini, kedepan penyusunan Rencana Aksi Daerah Kelapa Sawit Berkelanjutan (RAD KSB) fase 2 pencapaian targetnya bisa ditingkatkan,” harap Arif.
Dalam lokarya ini juga, kata Arif, akan menyinkronkan kerja dari pokja/bidang terkait rencana masing. Seperti diketahui di TPD KSB ada 5 bidang.
“Semoga semua bidang bisa menyusun rencana kerja dan rencana kegiatan dalam rangka peningkatan kapasitas SDM dimasing-masing.
Berkaitan dengan capaian kerja TPD KSB fase 1 yang mencapai 51 persen, Arif mengungkapkan bahwa selama periode 2019-2023 dihadapkan pada banyak kendala. Pertama, terkendala anggaran yang terdampak recofusing imbas Covid-19.
“Saat fase 1, meski kita punya anggaran, tetap saja kesulitan menggelar pertemuan karena Covid-19. Kunjungan ke lapangan juga masih dibatas,” bebernya.
Kendala kedua, terganjal sistem anggaran. Saat awal penyusunan RAD KSB, sistem masih menggunakan Simral, lalu berubah menjadi SIPD.
“Kendala ketiga, kami akui dalam menyusun rencana kegiatan tatgetnya terlalu muluk-muluk. Sehingga banyak program tidak melihat kesiapan anggaran. Makanya dalam menyusun RAD fase 2 ini, kita lebih fleksibel dan realistis, tidak berdasarkan keinginan semata,” jelasnya.
Sustainable Commodities Coordinator Sintang Melawi Project WWF Indonesia M Munawir mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan refleksi, karena SK Tim Pelaksana Daerah Kelapa Sawit Berkelanjutan (TPD-KSB) Kabupaten Sintang sudah keluar sejak Maret 2024.
“Sejak saat itu kita belum pernah melaksanakan pertemuan. Jadi melalui kegiatan kita ingin menyampaikan soal SK itu sekaligus melakukan refleksi kegiatan terdahulu. Dan memang, peran aktif TPD KSB perlu ditingkatkan lagi,” ujarnya.
“Makanya melalui lokakarya ini kita ingin ada input terkait bagaimana peran TPD KSB ini bisa lebih ditingkatkan. Sekaligus ingin mengetahui kendala dan tantangan kedepan, ini juga akan kita diskusikan bersama. Sehingga TPD KSB lebih berperan aktif dalam menjalankan tugas,” sambung Munawir.
Mengenai capain kinerja fase 1 yang baru mencapai 51 persen, Munawir menyebut salah satu kendalanya adalah penganggaran. Kemudian, ada kegiatan yang berkontribusi terhadap RAD KSB tapi tidak terkumpul di sekretariat. Sehingga seolah-olah tidak berkontribusi.
“Padahal kegiatan-kegiatan terkait RAD KSB tidak hanya dilakukan oleh pemerintah. Tapi juga oleh kawan-kawan mitra pembangunan hingga perusahaan perkebunan, salah satunya melalui program CSR. Asosiasi petani juga melakukan kegiatan itu. Kedepan kita optimis kinerja bisa ditingkatkan,” pungkasnya.






