KAPUAS HULU – Ketua Komisi V DPR RI Lasarus melanjutkan agenda resesnya di Kabupaten Kapuas Hulu dengan meninjau pembangunan Jembatan Gantung Desa Tanjung Karang, Kecamatan Putussibau Utara, Senin (27/7/2026), usai meninjau proyek Jalan Nanga Era–Batas Kalimantan Timur.
Jembatan yang dibangun melintasi Sungai Mendalam itu diharapkan menjadi solusi bagi masyarakat yang selama ini mengandalkan perahu untuk menyeberang, termasuk para pelajar yang setiap hari harus menuju sekolah di seberang sungai.
Dalam peninjauan tersebut, Lasarus didampingi Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Kalimantan Barat Chandra, Bupati Kapuas Hulu Fransiskus Diaan, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Ketua DPRD Kapuas Hulu Yanto, serta sejumlah anggota DPRD Kabupaten Kapuas Hulu.
Lasarus mengatakan pembangunan jembatan gantung tersebut menjadi kebutuhan mendesak karena arus Sungai Mendalam kerap deras saat air pasang sehingga membahayakan warga, terutama anak-anak sekolah yang masih menggunakan perahu sebagai sarana penyeberangan.
“Sekarang kita berada di Desa Tanjung Karang, Kecamatan Putussibau Utara. Ada jembatan gantung Sungai Mendalam yang menghubungkan beberapa desa di seberang. Anak-anak dari dusun ini sekolahnya di seberang, sehingga selama jembatan belum selesai mereka masih menggunakan perahu,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi sungai yang berarus deras saat banjir menjadi alasan penting percepatan pembangunan jembatan agar masyarakat memiliki akses yang lebih aman.
“Kalau air pasang arusnya sangat deras, itu membahayakan. Maka sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, kita bangun jembatan gantung ini supaya anak-anak yang sekolah di seberang bisa lebih aman,” katanya.
Lasarus menjelaskan jembatan tersebut nantinya diperuntukkan bagi pejalan kaki dan kendaraan roda dua. Namun, kendaraan ambulans tetap dapat melintas dalam kondisi darurat dengan ketentuan tidak berhenti di atas jembatan.
Ia juga mengingatkan Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu agar mengawasi pemanfaatan jembatan setelah selesai dibangun. Menurutnya, penghalang yang dipasang di pintu masuk jembatan tidak boleh dilepas agar tidak digunakan oleh kendaraan yang melebihi kapasitas.
“Kita titip kepada Pak Bupati agar jembatan ini jangan sampai pemanfaatannya salah. Kalau nanti penghalangnya dicabut dan kendaraan besar bebas melintas, itu bisa membahayakan masyarakat sendiri. Harus ada pengawasan dan prosedur yang disampaikan kepada masyarakat,” tegasnya.
Terkait progres pembangunan, Lasarus mengaku optimistis proyek tersebut dapat diselesaikan sesuai target pada Oktober 2026.
Berdasarkan hasil peninjauan di lapangan, progres fisik pembangunan saat ini telah mencapai sekitar 73 persen.
“Progresnya sudah sekitar 73 persen. Setelah pondasi selesai, pemasangan konstruksi akan lebih cepat, bahkan bisa dikerjakan siang dan malam. Saya yakin Oktober selesai,” ujarnya.
Meski demikian, ia meminta BPJN Kalimantan Barat, satuan kerja, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), serta pihak pelaksana proyek agar memperhatikan batas waktu kontrak dan memanfaatkan musim kemarau untuk mempercepat pekerjaan.
Lasarus menyebut sebelumnya pekerjaan sempat terhambat akibat banjir yang melanda kawasan tersebut sehingga peningkatan progres berjalan lebih lambat.
“Kalau tidak ada banjir, saya yakin progresnya sudah bisa mencapai sekitar 80 persen. Kemarin sempat terganggu karena banjir, itu memang kondisi force majeure. Karena sekarang cuaca sedang bagus, saya minta pelaksana memaksimalkan pekerjaan agar selesai tepat waktu,” katanya.
Sementara itu, Bupati Kapuas Hulu Fransiskus Diaan mengatakan keberadaan Jembatan Gantung Tanjung Karang sangat strategis karena akan menghubungkan sejumlah desa yang berada di seberang Sungai Mendalam.
Menurutnya, jembatan tersebut akan menjadi akses bagi masyarakat Desa Padua Mendalam, Desa Datah Diaan, serta beberapa dusun yang masuk wilayah Desa Tanjung Karang.
Selain mempermudah mobilitas masyarakat, jembatan juga akan menjadi jalur utama bagi para pelajar yang setiap hari menyeberangi sungai untuk menuju sekolah.
“Di seberang juga ada sekolah. Jadi anak-anak dari sini sekolahnya di seberang. Karena itu keberadaan jembatan ini sangat strategis bagi masyarakat,” ujar Fransiskus Diaan.







