BERITA-AKTUAL.COM –Sekda Sintang, Yosepha Hasnah meminta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sintang menyiapkan rencana belajar tatap muka terbatas sebaik mungkin. Persiapan belajar tatap muka yang sangat penting adalah penerapan protokol kesehatan (prokes) dengan sangat ketat dan disiplin.
“Anak-anak bisa disiplin saat berada di sekolah. Juga saat berada di rumah dan di tengah masyarakat,” kata Yosepha ketika memimpin rapat persiapan belajar tatap muka di Sintang, Rabu 16 Juni 2021.
Selain itu itu, tegas Yosepha, orang tua juga harus disiplin. Kemudian, guru terus menerus memberikan edukasi soal protokol kesehatan. “Guru menjadi contoh yang baik dalam menerapkan protokol kesehatan,” katanya.
Yopeha juga meminta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan melaksanakan rapat dengan kepala sekolah untuk persiapan belajar tatap muka terbatas. “Hasil rapat akan disampaikan kepada Bupati Sintang untuk diambil keputusan. Saya berharap, persiapan mulai dari kota sampai ke desa-desa,” katanya.
Menurut Yosepha, semua pasti menyambut gembira dan euphoria rencana pembelajaran tatap muka terbatas ini. Tetapi persiapan harus sangat baik. “Sebelum pelaksanaan belajar tatap muka terbatas, kita akan keliling ke beberapa sekolah. H-7 bisa kita lakukan pemeriksaan ke sekolah,” katanya.
Wakil Ketua Komisi C DPRD Sintang, Senen Maryono mengatakan, banyak masyarakat menginginkan belajar tatap muka ditahun ajaran baru 2021/2022. “Ini bukan basa basi. Karena masyarakat sudah jenuh dan anak-anak banyak berkeliaran kalau malam hari,” jelasnya.
Senen mengungkapkan, dengan tidak sekolah bukan berarti anak berada di rumah. Kalaupun di rumah, ternyata lebih banyak bermain game. “Kondisi ini membuat mereka mudah marah karena sering kalah main game. Temperamen mereka menjadi tinggi. Itu keluhan orang tua yang kami terima,” katanya.
Ditegaskan Senen, pendidikan itu menyangkut knowledge dan afektif. Kalau lama tidak tatap muka, maka prilaku anak-anak berubah menjadi tidak baik. Sementara, afektif bisa dibentuk kalau guru ketemu siswa.
“Kalau knowledge atau kognitif, bisa dicari di google dan buku. Anak-anak kalau dites, nilainya rata-rata tinggi karena boleh buka buku dan google. Semua ilmu ada di sana. Tetapi afektif atau sikap prilaku, tidak bisa. Afektif bisa dibentuk hanya dengan adanya bimbingan guru,” jelasnya.
Mengenai rencana belajar tetap muka terbatas, Senen menghimbau agar dipersiapkan dengan matang. “Saran kami, kalau ada satu sekolah menyelenggarakan tatap muka. Jangan ada kelonggaran atau pilihan untuk belajar online,” sarannya.
“Kalau tatap muka, ya semua murid ikut. Kalau diberi pilihan belajar online, pasti banyak yang pilih itu. Kasihan guru juga, harus mengurus dua metode belajar sekaligus. Kalau setengah-setengah lebih baik ndak usah. Artinya sekolah tersebut belum siap. Soal vaksin, kalau ada guru yang tidak mau atau ragu-ragu, jangan dipaksakan,” imbau Senen.





