Tanggapan Sekda Sintang soal Wacana ‘Impor’ Kadis Pariwisata

oleh

SINTANG – Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sintang, Kartiyus memberikan tanggapannya terkait wacana Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan yang ingin mendatangkan Kepala Dinas Pariwisata dari luar Kalimantan Barat untuk memajukan sektor pariwisata.

Kartiyus menyebut, khusus untuk Kabupaten Sintang belum ada wacana tersebut. “Kalau untuk Sintang, kita belum ada kebijakan seperti itu. Itu kebijakan Pak Gubernur lah yang ingin mendatangkan Kadis Pariwisata dari luar, ya ndak apa-apa,” katanya.

Lagipula, birokrasi untuk mendatangkan birokrat dari luar daerah juga cukup panjang dan merepotkan.

“Karena, untuk sekarang ini mutasi birokrat antar provinsi agar repot. Kalau dia (Pemprov Kalbar) kan enak, Pak Gubernur bisa cepat dia. Kalau kita di kabupaten, kan perlu persetuan provinsi, perlu persetujuan Menteri, kan kita repot ya kan,” ujar Kartiyus.

Jadi, sambung Kartiyus, saat ini pengisian Kadis Pariwisata memanfaatkan potensi yang ada. “Masih ada stok kita di sini. Jadi manfaatkan apa yang ada saja. Lebih baik kita suruh mereka belajar lebih baik lagi. Kita suruh cari pengalaman yang bagus, kemudian diterapkan di sini,” tegasnya.

Sebelumnya, saat kegiatan Musrenbang Sintang, Wakil Gubernur Kalimantan Barat Krisantus Kurniawan menyebut potensi pariwisata di Kalimantan Barat sangat kaya. Contoh, di Kabupaten Sintang ada air terjun Nokan Nayan.

“Itu air terjun yang luar biasa. Kalau air terjun itu kita kelola dengan maksimal, saya yakin potensinya akan mendunia. Karena air terjun ini sangat bagus, sampai ke bawah airnya sudah jadi embun,” ungkapnya.

“Hanya saja, selama ini kita selalu berfikir egosentris. Misalnya, yang jadi kepala dinas harus orang saya, atau harus orang Kalbar asli. Dan persyaratan seperti ini saya fikir sudah kuno,” nilai Krisantus.

Menurut Krisantus, kalau bicara pariwisata, Kalbar sudah harus impor kepala dinasnya dari luar. Misalnya pejabat dari Bali atau Lombok yang pengelolaan pariwisatanya sudah maju.

“Jadi pejabat dari sana kita impor jadi Kadis Pariwisata di Kalbar. Tujuannya untuk mengembangkan pariwisata. Saya yakin dengan pengalaman mereka, bisa memajukan pariwisata Kalbar,” yakinnya.

Ia menilai, pariwisata selama ini terkesan sebagai budaya rutinitas.

“Setiap tahun selalu dianggarkan dalam APBD, namun hanya sebagai budaya rutinitas. Misalnya, tahun ini Rp 30 M, tahun depan Rp 30 M, lakukan tudi banding, tapi tidak ada barang yang dibawa pulang. Jadi lebih baik ahlinya kita bawa ke sini, nanti setelah dia pensiun, ilmunya ditinggal dengan anak buahnya. Jadilah kita pandai dalam mengelola pariwisata,” katanya.

No More Posts Available.

No more pages to load.