SINTANG – Banjir yang melanda wilayah Kecamatan Kayan Hilir, Kabupaten Sintang, masih terus meluas. Hingga Selasa 19 Mei 2026), sedikitnya 15 desa dilaporkan masih terdampak banjir akibat meningkatnya debit air Sungai Kayan dan anak-anak sungainya.
Kapolsek Kayan Hilir, AKP Nikadelis Dekok mengatakan, pihaknya bersama pemerintah kecamatan dan desa terus melakukan monitoring terhadap perkembangan banjir yang dipicu tingginya curah hujan di wilayah hulu Sungai Kayan.
“Pada hari ini dilakukan monitoring peningkatan volume debit air Sungai Kayan yang mengakibatkan beberapa lokasi di wilayah Kecamatan Kayan Hilir terdampak banjir,” ujar AKP Nikadelis Dekok dalam laporan monitoring, Selasa pagi.
Berdasarkan hasil pemantauan sementara yang dilakukan sekitar pukul 09.00 hingga 10.00 WIB, sebanyak 15 desa telah terdata terdampak banjir dengan ketinggian air bervariasi antara 1 hingga 3 meter.
Desa-desa yang terdampak meliputi Desa Pakak, Landau Beringin, Neran Baya, Nanga Mau, Melingkat, Batu Netak, Sungai Garong, Sungai Sintang, Sungai Buaya, Lengkong Bindu, Nyangkom, Jaya Sakti, Mekar Mandiri, Pelaik dan Nanga Tikan.
Di antara desa terdampak, Desa Nanga Mau menjadi wilayah dengan jumlah warga terdampak terbanyak, yakni sekitar 297 kepala keluarga (KK), disusul Desa Landau Beringin sebanyak 147 KK dan Desa Sungai Buaya sebanyak 127 KK.
Sementara itu, ketinggian air tertinggi dilaporkan mencapai 3 meter di sejumlah desa seperti Pakak, Landau Beringin, Sungai Garong, Jaya Sakti, Lengkong Bindu hingga Nanga Tikan.
Meski banjir masih merendam permukiman warga, hingga saat ini belum dilaporkan adanya korban jiwa. Sebagian besar warga yang rumahnya terdampak memilih mengungsi sementara ke rumah keluarga, tetangga maupun lokasi yang lebih tinggi dan aman dari banjir.
Selain merendam rumah warga, banjir juga mulai mengganggu akses transportasi. Sejumlah ruas jalan protokol provinsi dilaporkan tergenang, sehingga menghambat arus lalu lintas dari Nanga Mau menuju Sintang maupun sebaliknya.
“Terdapat beberapa titik jalan provinsi yang sudah tergenang banjir, terutama di jalur Desa Jaya Sakti, Desa Mekar Mandiri hingga ruas Nanga Mau–Tebidah Sungai Menuang, sehingga menghambat mobilitas masyarakat,” jelasnya.
Tak hanya itu, banjir juga berdampak terhadap pelayanan publik. Kantor Polsek Kayan Hilir dilaporkan ikut tergenang air dengan ketinggian sekitar 1,5 meter. Kondisi ini menyebabkan aktivitas pelayanan kepolisian mengalami hambatan.
Sebagai langkah antisipasi terhadap risiko korsleting listrik, aliran listrik di kantor Polsek sementara dimatikan.
Kapolsek menambahkan, pihak kepolisian bersama pemerintah kecamatan, pemerintah desa serta organisasi masyarakat setempat terus melakukan pendataan warga terdampak dan menyiapkan penyaluran bantuan apabila diperlukan.
Menurutnya, kondisi banjir di Kecamatan Kayan Hilir sangat dipengaruhi tingginya intensitas hujan di wilayah hulu Sungai Kayan, terutama di Kecamatan Kayan Hulu. Jika curah hujan terus meningkat dan menyebabkan luapan sungai, maka desa-desa di bantaran Sungai Kayan dan Sungai Inggar berpotensi mengalami banjir lebih luas.
“Dari total 43 desa di Kecamatan Kayan Hilir, hingga saat ini baru 15 desa yang termonitor dan terdata terdampak banjir. Monitoring dan pemantauan masih terus dilakukan,” pungkasnya.







