SINTANG – Tingginya harga ikan Silok atau Arwana super red di pasaran membuat banyak masyarakat melakukan budidaya. Tak terkecuali warga Desa Tanjung Ria, Kecamatan Sepauk.
Kepala Desa Tanjung Ria, Johansyah membenarkan bahwa banyak warganya yang melakukan budidaya ikan arwana.
“Memang banyak warga yang melakukan budidaya Silok. Bahkan akses menuju daerah Sungai Raya, di sepanjang jalan tersebut rata-rata dipenuhi kolam ikan Silok. Ini budidaya ikan Silok pribadi milik warga di sini,” ungkap Johansyah ketika ditemui berita-aktual.com di Desa Nanga Sepauk, ibukota Kecamatan Sepauk, belum lama ini.
Budidaya ikan Silok, kata Johansyah, memang menjadi salah satu potensi besar di Desa Tanjung Ria. “Pembelinya bukan hanya masyarakat lokal saja. Bahkan dari luar negeri banyak yang datang langsung untuk membeli ikan Silok tersebut,” bebernya.
Johansyah menyebut, budidaya Silok memang sangat menjanjikan. Apalagi harganya sangat mahal. Rata-rata pembeli adalah penghobby yang rela membayar mahal demi mendapatkan ilan yang eksotis ini.
“Meski saat ini harga ikan Silok agak turun, tapi tetap saja masih bisa diandalkan untuk menambah penghasilan warga,” ujarnya.
Meski cukup banyak warga Desa Tanjung Ria yang melakukan budidaya ikan Silok, Johansyah mengaku tidak mengetahui secara pasti jumlah pembudidaya tersebut. “Kami belum pernah melakukan pendataan. Jumlahnya kurang lebih 20 penangkaran atau budidaya ikan Silok,” katanya.
“Apakah kami melirik budidaya ikan Silok sebagai usaha Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), selama diperbolehkan oleh aturan penggunaan dana desa hal itu bisa saja dilakukan. Tapi sampai saat ini tidak boleh, karena dana desa sudah ada peruntukannya sesuai dengan arahan pemerintah pusat,” pungkasnya.





