SINTANG – Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Kabupaten Sintang, Martin Nandung mengatakan bahwa dengan semakin membaiknya harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit dan komoditi karet, sulit meyakinkan masyarakat untuk menanam jagung dan padi.
“Kondisi saat ini, masyarakat menilai menanam sawit jauh lebih menguntungkan ketimbang jagung, walaupun memang menanam sawit ini perlu waktu yang lama,” kata Martin ketika ditemui berita-aktual.com di ruang kerjanya, belum lama ini.
Selain itu, kondisi sekarang dengan harga karet yang sudah semakin membaik, tidak mudah bagi Distanbun Kabupaten Sintang untuk meyakinkan petani bahwa nanam jagung atau padi lebih menjanjikan ketimbang menoreh gerah.
“Karena noreh getah hari ini, besok sudah bisa dijual. Tanam padi, sekalipun padi unggul dengan masa panen tiga bulan, belum tentu hasilnya maksimal,” katanya.
Apalagi kalau dalam prosesnya tersebut terkena hama atau penyakit, bisa jadi gagal panen kan. “Kalau noreh, kendalanya paling ketika hujan, hasilnya jadi berkurang. Kalau ndak hujan kan aman2-aman saja, realitanya seperti itu,” katanya.
Meski demikian, tegas Martin, Distanbun Kabupaten Sintang tetap support petani. Serta selalu mendorong mereka untuk harus menanam komoditi padi maupun jagung
“Kadang, saya agak ekstrim kalau memberikan penyuluhan pada petani. Saya bilang, berapapun harga sawit, berapapun harga karet, ya kita belum bisa menikmati. Kalau kita belum punya beras, kita tetap harus beli. Belum bisa kita makan buah sawit,” bebernya.
Kata Martin, meski omongan ini agak ekstrim, tapi ini untuk support petani. Bahwa kita tidak boleh meninggalkan aktivitas pertanian. Kita mungkin cukup, segala keperluan terpenuhi. Tapi saudara kita belum tentu cukup.
“Kita ini mahluk sosial, jadi ndak mungkin kita makan sendiri dan membiarkan tetangga sekitar kelaparan. Kita punya kewajiban membantu. Mumpung sudah bergerak di bidang pertanian, ya terus tingkatkan. Tekuni profesi itu sebagai bagian dari mata pencaharian atau pekerjaan. Kalau kita mencintai pekerjaan kita, pasti akan dapat hasil,” ujarnya.
Kalau sekarang menurut petani belum begitu menjanjikan, Martin yakin kedepan akan lebih menjanjikan.
“Sebenarnya untuk Kabupaten Sintang sudah sangat menjanjikan, kalau pemerintah beli beras Rp 10 ribu per kilo, di pasaran atau di tingkat petani bisa mencapai Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu per kg. Jadi harganya terhitung tinggi,” nilai dia.






