SINTANG – Masyarakat Adat Telaga Padong Buket Dayak Kebahan, Desa Merah Arai, Kecamatan Kayan Hulu, Kabupaten Sintang, resmi meluncurkan Sekolah Adat Dayak Kebahan dalam rangkaian Pegowai Tutop Tahun Peuma yang mengusung tema “Mewujudkan Warisan Dayak Kebahan untuk Indonesia Berbudaya”.
Kegiatan berlangsung pada 30 Juni hingga 1 Juli 2026 dan menjadi tonggak penting dalam upaya pelestarian sekaligus pengembangan budaya Dayak Kebahan di tengah arus modernisasi.
Prosesi peluncuran diawali dengan penyambutan tamu melalui upacara adat di Pagar Ompong, kemudian dilanjutkan arak-arakan menuju Balai Adat. Di lokasi tersebut dilakukan penandatanganan prasasti Sekolah Adat Dayak Kebahan sebagai simbol dimulainya proses pembelajaran adat bagi masyarakat Dayak Kebahan.
Setelah peluncuran, masyarakat melaksanakan ritual Tutop Tahun Peuma sebagai penutup tahun adat sekaligus pembukaan tahun adat yang baru. Seluruh warga berjalan mengelilingi kampung sambil membawa gong dan berbagai perlengkapan pertanian sebagai simbol membuang segala kesialan, menolak bala, serta memohon keselamatan dan keberkahan dalam memasuki musim berladang yang baru.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan prosesi nyengkolan batu di Balai Adat. Masyarakat selanjutnya mengikuti tradisi makan bersama atau berontang panjang dengan menyajikan beragam hidangan khas Dayak Kebahan, seperti Kelopok dan Tekala. Hidangan disajikan menggunakan konsep beutong, yakni daging yang ditusuk menggunakan rotan sebagai lambang keadilan, kebersamaan, dan persaudaraan dalam kehidupan masyarakat adat.
Peluncuran Sekolah Adat Dayak Kebahan dihadiri Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XII Kalimantan Barat, Juliadi, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sintang Herkolanus Roni beserta jajaran, Camat Kayan Hulu Sugianto, Kepala Desa Merah Arai Martinus, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, serta tamu undangan dari berbagai daerah.
Ketua Sekolah Adat Dayak Kebahan, M. Darmansyah, mengatakan sekolah adat dibentuk sebagai wadah untuk menghidupkan kembali berbagai warisan budaya Dayak Kebahan yang mulai tergerus perkembangan zaman.
“Sekolah adat ini bertujuan mengangkat kembali berbagai tradisi Dayak Kebahan yang mulai hilang di tengah masyarakat, seperti seni tari, anyaman, kerajinan tangan, pengetahuan pengobatan tradisional, serta berbagai kearifan lokal lainnya. Semua itu memiliki nilai budaya, ekonomi, dan kesehatan yang perlu diwariskan kepada generasi muda,” ujarnya.
Menurut Darmansyah, sekolah adat tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga menjadi ruang pewarisan identitas budaya agar tetap hidup di tengah masyarakat dan terus berkembang mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai dasarnya.
Sementara itu, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XII Kalimantan Barat, Juliadi, memberikan apresiasi atas lahirnya Sekolah Adat Dayak Kebahan. Ia menilai masyarakat Dayak Kebahan masih memiliki kekayaan budaya yang autentik dan belum banyak terpengaruh budaya luar sehingga memiliki nilai penting sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia.
Ia berharap Sekolah Adat Dayak Kebahan dapat menjadi model pelestarian budaya berbasis masyarakat yang mampu mengangkat kekayaan budaya Dayak Kebahan ke tingkat yang lebih luas sekaligus menjadi percontohan bagi komunitas adat lainnya di Kalimantan Barat.
Senada dengan itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sintang, Herkolanus Roni, mendorong agar materi pembelajaran di Sekolah Adat dapat disinergikan dengan pendidikan formal melalui muatan lokal di sekolah-sekolah.
Menurutnya, langkah tersebut akan memperkuat pendidikan karakter sekaligus memperkenalkan sejarah, bahasa, adat istiadat, seni budaya, serta pengetahuan tradisional Dayak Kebahan kepada generasi muda sejak usia dini.
Dukungan juga datang dari Pemerintah Desa Merah Arai. Kepala Desa Martinus menyatakan pemerintah desa mendukung penuh keberadaan Sekolah Adat sebagai pusat pelestarian budaya sekaligus sarana pendidikan masyarakat.
Ia berharap sekolah adat mampu menjadi ruang belajar lintas generasi sehingga nilai-nilai budaya Dayak Kebahan tetap hidup, berkembang, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Tokoh muda Dayak sekaligus salah satu penggagas Sekolah Adat Dayak Kebahan, Noven Honarius, mengatakan sudah saatnya generasi muda Dayak, khususnya Dayak Kebahan, memiliki wadah untuk menggali, mempelajari, dan mewariskan kebudayaan leluhur secara berkelanjutan.
Menurutnya, sekolah adat tidak hanya menjadi tempat belajar mengenai adat istiadat, sejarah, bahasa, seni, dan kearifan lokal, tetapi juga menjadi sarana pembentukan karakter generasi muda.
“Melalui Sekolah Adat, generasi muda Dayak Kebahan diharapkan memiliki arah hidup yang jelas serta tidak mudah terjerumus ke dalam berbagai penyimpangan perilaku seperti budaya hura-hura, penyalahgunaan minuman keras, narkoba, maupun berbagai tindakan kriminal lainnya. Sekolah adat menjadi jembatan utama untuk menanamkan nilai-nilai budaya, menjaga norma-norma yang hidup di tengah masyarakat, serta membentuk generasi Dayak yang berkarakter, berbudaya, dan mampu menghadapi perkembangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya,” kata Noven.
Sekolah Adat Dayak Kebahan merupakan hasil kolaborasi masyarakat adat bersama berbagai pihak. Gagasan pendiriannya dipelopori oleh M. Darmansyah, Martinus, Khairil, dan Noven Honarius dengan dukungan penuh masyarakat Adat Telaga Padong Buket Dayak Kebahan.
Melalui keberadaan sekolah adat tersebut, masyarakat berharap nilai-nilai adat, bahasa, sejarah, seni, pengetahuan tradisional, serta berbagai kearifan lokal Dayak Kebahan dapat terus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi mendatang. Sekolah Adat Dayak Kebahan juga diharapkan menjadi kontribusi nyata masyarakat adat dalam memperkuat pembangunan kebudayaan nasional sekaligus menjaga identitas Dayak Kebahan sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.






