BERITA –AKTUAL.COM – Warga Desa Mandiri Jaya, Kecamatan Kelam Permai, Kabupaten Sintang, merasa belum merdeka akibat belum tersedianya listrik negara hingga jaringan seluler di daerahnya.
“Kami merasa belum merdeka, karena penerangan masih menggunakan genset dan panel panel surya. Ditambah lagi, sinyal tidak ada,” keluh Mia Yunita, Kepala Wilayah Ujung Kulan, Desa Mandiri Jaya, saat reses Ketua DPRD Sintang belum lama ini.
Dengan adanya kondisi tersebut, Mia meminta agar pengajuan listrik terus dikawal agar segera terealisasi. Mengingat, ketersediaan listrik sangat dinantikan oleh masyarakat Desa Mandiri Jaya.
“Listrik desa mohon dikawal. Semoga bisa tembus. Saya sendiri sudah mulai mengumpulkan calon pelanggan. Minat masyarakat luar biasa karena listrik sudah jadi kebutuhan,” ucapnya.
Begitu juga soal ketersediaan sinyal seluler. Menurut Mia, ditengah massifnya informasi saat ini tentu ketersediaan sinyal seluler hingga akses internet sangat dinantikan.
“Kita juga mengharapkan pembangunan tower seluler. Minimal tower mini untuk mengakses informasi lewat internet informasi,” ucapnya.
Guru SD 8 Sungai Manyam, Desa Mandiri Jaya, Harto Wahyu Utomo mengaku kesulitan menyelesaikan tugas administrasi sekolah karena listrik dan sinyal nihil. Padahal, semua laporan administrasi saat ini serba online.
“Karena listrik dan sinyal internet tidak ada, saya terpaksa membuat laporan sekolah ke Sintang. Oleh karena itu, kami minta bantuan panel surya dan penguat sinyal untuk bekerja,” ucapnya.
Berulangkali Diusulkan
Kepala Desa Mandiri Jaya, Florensius Along Mengungkapkan bahwa proposal listrik masuk desa sudah diajukan sejak tahun 2013 saat Bupati Sintang dijabat Milton Crosby. Bupati juga mengeluarkan surat rekomendasi. Selanjutnya, pihaknya membawa proposal tersebut ke PLN Wilayah Pontianak.
“Dari PLN Pontianak disuruh ke PLN Cabang Sanggau lalu ke ranting Sintang. Saat itu tidak ada jawaban,” ungkapnya.
Tahun 2017, kata Along, pihaknya menbuat proposal lagi. Dan dapat rekomendasi dari Bupati Sintang Jarot Winarno. Usulan itu juga tidak membuatkan hasil.
“Untuk usulan ketiga tahun 2021, kita tidak pakai rekomendasi lagi. Tapi kita dibantu Bappeda dengan mengeluarkan surat pengantar,” katanya.
Dikatakan Along, usulan tersebut, sepertinya ada angin segar. Dari 37 usulan Kabupaten Sintang, kita termasuk desa prioritas.
“Dalam waktu dekat kita akan ke Pontianak lagi untuk mempertanyakan lagi hal ini,” kata Along.
Jika listrik masuk ke Desa Mandiri Jaya, kata Along, hanya mampu menjangkau 2 dusun dengan 98 KK. Sedangkan 4 dusun belum mampu dijangkau jaringan itu. Untuk 2 dusun lainnya sedang proses pembangunan listrik tenaga surya turbin oleh pihak swasta.
Pernah Ancam Golput
Along menuturkan, usulan agar listrik masuk desa kerap disampaikan dalam forum Musrenbang maupun rapat-rapat. Namun tak juga membuahkan hasil.
“Makanya saya pernah ngomong, untuk apa Musrenbang kalau formalistas. Bahkan saya pernah dipanggil pihak kecamatan hingga aparat karena pernah menyampaikan wacana golput karena listrik tak kunjung terealisasi,” ucapnya.
Menurutnya, nihilnya listrik negara membuat warga sangat kesulitan. Apalagi, penerangan yang jadi alternatif seperti panel surya maupun genset perlu biaya tidak sedikit.
“Perlu diketahui, dalam semalam untuk penerangan sejak pukul 18.00 – 22.00 menghabiskan 2 liter minyak. Kalau sampai pagi, biaya yang dikelurkan lebih banyak lagi. Apalagi jika biayanya dikalikan satu bulan,” ucapnya.
Untuk panel surya, sambung Along, kemampuan penerangan pun tidak seberapa. Paling untuk mengisi ulang baterai handphone dan penerangan seadanya.





