SINTANG – Pakaian sekolah yang seharusnya rapi berubah penuh lumpur. Sepatu, tas, hingga badan basah oleh tanah licin. Begitulah potret perjuangan siswa SMP Negeri 5 Sepauk, Kabupaten Sintang, setiap kali berangkat dan pulang sekolah.
Sebuah video yang beredar luas memperlihatkan seorang siswa SMPN 5 Sepauk dengan tubuh penuh lumpur menyampaikan keluh kesahnya kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang. Dengan suara polos namun penuh harap, ia meminta agar jalan menuju sekolah mereka segera diperbaiki.
Jalan yang dimaksud berada di Desa Bedayan, Kecamatan Sepauk. Kondisinya rusak parah dan tersebar di sejumlah titik. Lubang serta permukaan tanah yang licin menjadi ancaman nyata bagi para siswa, terutama saat hujan turun.
“Jalannya itu ada beberapa titik yang lumayan ekstrem. Di sana, di sini, dan di sebelah sana licin semua. Apalagi kalau sudah hujan, jalannya sungguh licin. Saya jatuh di sebelah sana,” ujar siswa tersebut dalam video yang diposting akun TikTok @Purwaeny8.
Ia menuturkan, jalan yang kini mereka lewati setiap hari sebenarnya merupakan hasil gotong royong antara siswa dan masyarakat Desa Bedayan. Meski sudah diupayakan semampu mereka, kondisi jalan tetap sulit dilalui dan jauh dari kata aman.
“Jalan ini hasil gotong royong kami, siswa SMPN 5 Sepauk, bersama masyarakat Desa Bedayan. Tapi tetap licin dan berbahaya,” lanjutnya.
Akibat kondisi tersebut, hampir setiap hari ada siswa yang terjatuh saat berangkat maupun pulang sekolah. Tak jarang, pakaian sekolah mereka kotor sebelum sampai ke kelas, bahkan ada yang terpaksa kembali ke rumah karena kondisi tak memungkinkan untuk mengikuti pelajaran.
Para siswa pun berharap pemerintah segera turun tangan. Mereka tidak menuntut jalan beraspal mulus, melainkan pengerasan agar akses menuju sekolah lebih layak dan aman.
“Kami harap pemerintah segera memberi pengerasan jalan ini. Setidaknya diberi pengerasanlah, supaya kami bisa berangkat dan pulang sekolah lebih nyaman, tidak kotor-kotor seperti ini,” katanya.
Dengan penuh harap, siswa tersebut menutup pesannya dengan permintaan tulus. “Kami sungguh ingin sekali jalan ini diperbaiki. Setiap hari ada siswa yang jatuh demi berangkat sekolah untuk menuntut ilmu. Jadi tolong pemerintah cepat ya.”
Kondisi ini menjadi ironi. Mengingat, saat siswa mengeluhkan jalan menuju sekolah yang rusak, ada anggaran Pemda Sintang tahun 2025 yang tidak terserap sekitar Rp200 M.





