SINTANG – Sebuah video yang memperlihatkan proses rujukan pasien menggunakan perahu longboat di jalur Sungai Tebidah, Kecamatan Kayan Hulu, Kabupaten Sintang, beredar luas di masyarakat. Peristiwa tersebut terjadi pada malam hari di tengah guyuran hujan deras, mencerminkan beratnya akses layanan kesehatan di wilayah pedalaman.
Dalam video itu, tenaga medis tampak berupaya melindungi pasien dari hujan menggunakan terpal berwarna biru. Meski dalam kondisi terbatas, penanganan medis tetap dilakukan. Infus pasien bahkan dipasang dengan bantuan bambu yang diikat di perahu agar tetap stabil selama perjalanan.
Ketua Komisi C DPRD Sintang, Anastasia, membenarkan kejadian tersebut. Ia menjelaskan bahwa jalur sungai saat ini menjadi satu-satunya alternatif rujukan di wilayah perhuluan Sungai Tebidah karena akses darat tidak dapat dilalui, bahkan oleh kendaraan roda dua.
“Pasien dirujuk lewat jalur sungai karena akses jalan darat tak bisa dilewati lagi,” ujar Anastasia, Jumat (1/5/2026).
Ia menjelaskan, pasien awalnya dirujuk dari Desa Kerapuk Jaya menuju Desa Nanga Laar, kemudian dilanjutkan ke Nanga Tebidah yang merupakan ibu kota Kecamatan Kayan Hulu.
Menurut Anastasia, akses jalan darat sebelumnya sempat dibuka hingga desa paling ujung di jalur Sungai Tebidah, yakni Desa Tanjung Miru, pada masa kepemimpinan Bupati Sintang Jarot Winarno dan Askiman. Namun, kondisi jalan saat ini tidak terawat.
Politisi Partai NasDem itu mengaku telah berupaya memperbaiki kondisi jalan melalui alokasi anggaran pokok pikiran (pokir) setiap tahun. Namun, keterbatasan anggaran membuat penanganan dilakukan secara bertahap.
“Anggaran itu untuk perawatan dan dilakukan bertahap. Baru sampai Nanga Oran, dan tahun ini dilanjutkan dari Nanga Oran ke Nangkak Lestari. Mudah-mudahan tidak terkena efisiensi lagi. Sementara di bagian ujung masih banyak desa yang belum tersentuh perawatan jalan,” jelasnya.
Ia menambahkan, kondisi jalan yang rusak parah membuat akses ke sejumlah desa seperti Nanga Laar dan Kerapuk praktis terputus. Bahkan, masyarakat harus bergotong royong melakukan perbaikan seadanya agar tetap bisa dilalui.
“Jangankan mobil, untuk sepeda motor saja aksesnya sudah putus sampai Nanga Laar dan Kerapuk. Perawatannya pun dilakukan secara swadaya oleh masyarakat. Tidak ada pilihan lain. Jika menggunakan speedboat biayanya mahal. Namun karena membawa pasien, mau tidak mau harus lewat sungai karena tidak memungkinkan menggunakan sepeda motor,” pungkasnya.





