BERITA-AKTUAL.COM – Fraksi Amanat Persatuan DPRD Sintang menyoroti penanganan jenazah pasien COVID-19 yang meninggal dunia di Kabupaten Sintang belum lama ini.
Hal itu disampaikan juru bicara Fraksi Amanat Persatuan DPRD Sintang, Senen Maryono saat Penyampaian Pandangan Umum Fraksi-fraksi terhadap Nota Keuangan dan Raperda APBD Sintang tahun 2021, Rabu (11/11).
“Apa saja fasilitas yang diberikan dalam menangangi pasien COVID-19 yang meninggal dunia? Apakah penggali kubur juga dibiayai? Karena mohon maaf, biaya COVID-19 ini dikatakan mahal. Tapi, dua orang yang meninggal COVID-19 di Sintang, kami pribadi melihat langsung. Penanganan kurang profesional. Lambat,” kata Senen Maryono.
Senen kemudian mengungkapkan bahwa ada informasi yang menyatakan bahwa mayat COVID-19 paling lambat empat jam harus dikebumikan. Hal itu kemudian ia bandingkan saat dirinya melihat penanganan jenazah pasien COVID-19 di Sintang.
“Ketika ditanya kain kafan sudah tersedia. Siap Pak. Ternyata, nunggu kain kafan hingga 2,5 jam. Baru ketahuan, 4 jam mayat itu tergeletak. Saat dikebumikan, hampir 1 jam lebih. Kondisinya diguyur hujan lebih. Padahal, kalau ditangan professional, mungkin tidak sampai 1 jam,” bebernya.
“Dan para penggali kubur, tidak ada makan, tidak minum. Terus terang saya keluarkan dompet untuk uang saku mereka para penggali makam. Dan ketika kami tanyakan, dari rumah sakit tidak dapat biaya itu,” sambung Senen.
Politisi PAN ini mengatakan, apa yang disampaikannya bukan bermaksud menyalahkan. Tapi meminta pemerintah memberikan penjelasan. Dan harus jadi perbaikan kedepan.
“Yang penting tidak ada dosa diantara kita. Kalau memang tidak ada, katakan tidak ada. Ndak apa dijelaskan. Supaya masyarakat paham. Karena dimedia sosial luar biasa. Meninggal COVID-19 semua dibiayai pemerintah,” ucapnya.
“Mohon maaf, ini bukan menyalahkan, tapi harus ada solusi kedepan. Terus terang, saya membaca ini sedih. Karena melihat langsung saudara angkat kami, teman kami, satu jamaah saat itu. Oleh karena itu, kedepan harus ada antisipasi. Jangan sampai suatu saat ada yang meninggal karena COVID-19 terjadi keterlambatan dan jadi pertanyaan masyarakat,” tegasnya.
Senen juga menyarankan jika ada pasien COVID-19 meninggal dunia, yang memulasarkan adalah jenis kelamin yang sama dan penganut agama yang sama. “Karena masing-masing agama punya tentu punya tata cara. Jangan sampai campur-campur. Mudah-mudahan, tidak ada lagi meninggal karena COVID-19 Sintang. Kita berdoalah pada Yang Maha Kuasa,” ucapnya.




