BERITA-AKTUAL.COM – Anggota DPRD Sintang, Melkianus mengungkapkan bahwa hingga saat ini petani sawit mandiri sangat terpukul atas anjloknya harga tandan buah segar (TBS) di pasaran. Mengingat, harga TBS sangat rendah. Bahkan ada TBS petani yang tak dibeli pabrik.
“Keluhan soal harga TBS murah dan tak dibeli pabrik ini disampaikan warga saat saya reses di Kecamatan Ketungau Hulu beberapa waktu lalu,” ungkap Melkianus.
Oleh karena itu, kata legislator Partai Golongan Karya (Golkar) ini, masyarakat khususnya petani sawit mandiri meminta kepada Bupati Sintang melalui dinas terkait bersama DPRD untuk dapat memfasilitasi dan memberikan solusi.
“Solusi ini sangat diharapkan oleh warga. Karena ada beberapa pabrik tidak menerima TBS petani sawit mandiri. Pabrik lebih memprioritaskan buah inti. Kalaupun ada pabrik yang membeli buah petani, harganya sangat murah,” kata Melkianus.
Beberapa waktu lalu, Kepala Desa Semajau Mekar Kecamatan Ketungau Hilir, Jaka Ikhsani mengakui ada sejumlah pabrik milik perusahaan perkebunan kelapa sawit tidak menerima TBS petani.
“Ada beberapa pabrik yang sudah menyatakan itu (menolak TBS petani sawit mandiri-red,” kata Jaka.
Kondisi tersebut diakui Jaka membuat resah petani. Mereka juga bingung kemana harus menjual TBS dari kebun mereka. “Resah sudah pasti. Karena harus putar otak lagi untuk mencari jalan keluar agar TBS petani sawit mandiri bisa dijual untuk menghasilkan uang,” ucapnya.
Jaka mengungkapkan, di desanya cukup banyak masyarakat yang menjadi petani sawit mandiri. Jumlahnya lebih dari 50 orang. Dengan adanya pelarangan ekspor yang berdampak pada TBS ditolak oleh pabrik perusahaan sawit, sudah tentu membuat ekonomi masyarakat kesulitan.
Penurunan harga TBS yang terjadi tidak terlepas dari kebijakan pelarangan eksor Crude Palm Oil (CPO) dan produk turunannya oleh pemerintah. Meski larangan ekspor sudah dicabut, hingga saat ini harga TBS belum kembali seperti semula. Bahkan terus anjlok hingga ratusan rupiah per kilogram.





