Sosialisasi 4 Pilar MPR RI, Lasarus Ajak Warga Ulak Jaya Cerdas Memilih dan Tolak Politik Uang

oleh
Ketua Komisi V Lasarus melakukan sosialisasi 4 pilar MPR RI.

SINTANG – Anggota DPR RI, Lasarus, menegaskan pentingnya pemahaman dan pengamalan Empat Pilar MPR RI sebagai fondasi utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Hal tersebut disampaikannya saat kegiatan Sosialisasi 4 Pilar MPR RI di hadapan masyarakat, tokoh agama, dan tokoh masyarakat Kelurahan Ulak Jaya, Kecamatan Sintang, Sabtu 27 Desember 2025.

Lasarus menjelaskan bahwa Indonesia berdiri kokoh di atas empat prinsip dasar bernegara, yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta Bhinneka Tunggal Ika.

“Negara Indonesia ini ditopang oleh empat prinsip bernegara. Pancasila sebagai dasar ideologi negara, UUD 1945 sebagai konstitusi, NKRI sebagai bentuk negara, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai perekat keberagaman. Walaupun kita berbeda suku, agama, dan pulau, kita tetap satu, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tegas Lasarus.

Ia menilai, pemahaman terhadap Empat Pilar tersebut sangat penting, terutama dalam konteks kehidupan politik saat ini. Menurutnya, praktik politik kerap menyimpang dari nilai-nilai dasar bangsa, seperti masih kuatnya sentimen suku, agama, dan daerah asal dalam menentukan pilihan politik.

“Setelah seseorang terpilih menjadi pejabat, latar belakang suku atau agamanya tidak lagi berarti. Yang paling penting adalah seberapa besar tanggung jawab dan amanah yang dia jalankan untuk masyarakat,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Lasarus juga mengkritisi keras praktik politik uang yang dinilainya telah merusak demokrasi dan mencederai kepercayaan publik. Ia menceritakan pengalamannya pada pemilu sebelumnya, di mana bantuan pembangunan yang bernilai besar justru kalah oleh praktik pembelian suara dengan uang tunai dalam jumlah kecil.

“Bayangkan, bantuan rumah senilai puluhan juta rupiah bisa kalah oleh uang Rp300 ribu per suara. Akibatnya apa? Jalan rusak, fasilitas kesehatan tidak diperbaiki, pendidikan terabaikan. Lalu masyarakat mengeluh setelah pejabat terpilih, padahal sejak awal pilihan kita yang keliru,” katanya.

Lasarus mengajak masyarakat untuk mulai cerdas dan rasional dalam memilih pemimpin, terutama menjelang Pemilu 2029 mendatang. Ia menekankan agar masyarakat menilai calon pemimpin dari rekam jejak, pengalaman, serta tanggung jawab moral, bukan semata karena uang.

“Lihat apakah dia punya peluang terpilih, punya pengalaman, dan benar-benar bisa membawa aspirasi masyarakat. Jangan hanya karena diberi uang, lalu setelah terpilih dia tidak pernah datang lagi,” imbuhnya.

Sebagai anggota DPR RI yang telah menjabat selama empat periode, Lasarus juga memaparkan bahwa perjuangan di parlemen tidaklah mudah. Menurutnya, anggota DPR harus bersaing secara kompetensi untuk memperoleh posisi strategis agar dapat memperjuangkan aspirasi daerah.

“Kalau kita tidak punya kewenangan dan posisi yang kuat, sulit juga memperjuangkan kepentingan masyarakat di pusat. Karena itu, memilih wakil rakyat harus benar-benar dipikirkan dengan matang,” jelasnya.

Dalam suasana penuh keakraban, Lasarus menegaskan bahwa kehadirannya dalam kegiatan tersebut murni untuk berbagi dan memberikan edukasi politik, bukan untuk meminta dukungan politik.

“Saya datang ke sini berbagi, bukan minta dipilih. Pemilu masih jauh. Justru sekarang waktu yang tepat untuk bicara dan memperbaiki kesadaran politik masyarakat,” tegasnya.

Ia berharap para tokoh masyarakat dan tokoh agama turut berperan aktif mencerdaskan masyarakat agar tidak terus menjadi korban praktik politik uang.

“Kalau kita tidak memperbaiki ini bersama-sama, masyarakat akan terus dibodohi. Suara dibeli, lalu ditinggalkan. Padahal dampaknya kita rasakan bersama,” pungkas Lasarus.

 

No More Posts Available.

No more pages to load.